Google Adsense

Thursday, September 3, 2015

INDONESIA DEAL GANTIKAN F-5 AS DENGAN SU-35 RUSIA

INDONESIA DEAL GANTIKAN F-5 AS DENGAN SU-35 RUSIA.

Jakarta - Kementerian Pertahanan telah memutuskan akan mengganti satu skuadron atau 16 unit pesawat F-5 Tiger milik TNI Angkatan Udara yang akan memasuki masa pensiunnya dengan pesawat tempur Sukhoi SU-35 dari Rusia.

"Kita sepakat (Panglima TNI dan KSAU) akan membeli satu skuadron Sukhoi SU-35 dari Rusia untuk menggantikan pesawat tempur F-5 Tiger," kata Menhan Ryamizard Ryacudu usai sidak persenjataan milik TNI Angkatan Darat di tiga kesatuan, yakni Kopassus, Yonkav 1/1 Kostrad, dan Yonif Mekanis 201 Jaya Yudha, di Jakarta, Rabu (2/9).

Pertimbangannya Kementerian Pertahanan memilih Sukhoi sebagai pengganti F-5 Tiger, kata dia, karena penerbang TNI Angkatan Udara sudah terbiasa menggunakan Sukhoi.
"Sekarang kita memiliki pesawat tempur dari Amerika dan Rusia. Kita bukan negara yang blok-blokan," katanya.

Pembelian pesawat Sukhoi itu akan dilakukan secara bertahap sesuai dengan kemampuan keuangan negara. "Kita ingin membeli satu skuadron, tetapi disesuaikan kemampuan pemerintah," kata Ryamizard.

Mantan Kepala Staf TNI Angkatan Darat (KSAD) ini mengatakan bahwa pada bulan September 2015 akan ada penandatanganan pembelian Sukhoi dengan pihak Rusia.

Di tempat yang sama, Dirjen Perencanaan Pertahanan Kemhan Marsekal Muda TNI M. Syaugi mengatakan bahwa pembelian pesawat Sukhoi 35 yang baru melalui alih teknologi atau transfer of technology (ToT) dengan pihak Rusia.

"Ini sesuai dengan aturan yang ada bahwa kalau kita ingin membeli alutsista harus ada ToT. Semua itu disesuaikan dengan kemampuan. Jadi, berapa kemampuan anggaran kan tidak mungkin kita minta satu unit terus minta TOT bikinnya gimana, jadi disesuaikan dengan uang yang ada," kata Syaugi.

Ia mengatakan, "Pembelian pesawat tempur canggih itu akan lengkap dengan senjatanya. Lebih baik sedikit ketimbang banyak, tetapi kosongan." Kemhan menginginkan agar pembelian pesawat itu sebanyak 16 unit. Akan tetapi, disesuaikan dengan keputusan pemerintah.

"Kita ini kan belum diputuskan uangnya berapa. Kita sudah pingin beli itu cepat-cepat. Penetapan dari Bappenas itu belum keluar. Mungkin dihitung-hitung dahulu dolarnya berapa. Berapa ini mampunya negara, ini kan dari pinjaman luar negeri," kata Syaugi.
Sumber : berita satu.

MENGENAL RADAR WEIBEL TNI-AU

MENGENAL RADAR WEIBEL TNI-AU

Pada Tahun ini TNI AU diberitakan telah membeli radar baru dari Denmark. Menurut berita terdahulu, TNI AU telah memesan radar doppler produksi Denmark ini.

Weibel Scientific merupakan perusahaan asal Denmark yang memproduksi radar dengan prinsip doppler. Weibel menyediakan berbagai macam radar dengan kebutuhan yang berbeda.

TNI AU memilih radar ini karena mobile, mudah diangkut dengan pesawat terbang. Radar ini dapat beroperasi di segala cuaca. Jarak pelacakan radar mampu menjangkau sampai 1000 Km dengan jarak pengintaian antara 250 - 400 Km. Radar ini menampilkan gambar dengan tampilan 2D atau 3D. Radar Weibel juga dilengkapi Rx Digital Multi Beam Phased array.

Semua radar Weibel memiliki muzzle velocity radar system, active protection radar system, sistem doppler, tracking radar systems, multi frekuensi, ranging radar untuk platform pihak ketiga, pelacakan multi sensor, dan sistem pengintai dan pelacak.

Radar Weibel dioperasikan oleh personel TNI AU di bawah Kohanudnas (Komando Pertahanan Udara Nasional). Radar mobile ini sangat berguna untuk menutup kekurangan radar di wilayah timur Indonesia, atau untuk menambah mata di daerah yang sering menjadi daerah konflik.

MENHAN TINGKATKAN PENJAGAAN NATUNA

MENHAN TINGKATKAN PENJAGAAN NATUNA.

Konflik Laut China Selatan yang melibatkan negara Tiongkok dan sejumlah negara yang berbatasan di Asia Pasifik masih terus berlanjut. Walau Indonesia tidak terlibat langsung dalam konflik, Menteri Pertahanan Ryamizard Ryacudu menyebut perlu ada langkah antisipatif yang dilakukan Indonesia.

"Ya nanti bulan depan Natuna (makin diperkuat)," ungkap Ryamizard di usai meninjau Alutsista di Batalyon Infanteri Mekanis 201/Jaya Yudha di Cijantung, Jakarta Timur, Rabu kemarin.

Menurut Ryamizard, ia telah mempersiapkan untuk meningkatkan kekuatan militer di tubuh TNI. Mulai dari peningkatan Landasan Udara di Natuna termasuk yang baru saja dilakukan peningkatan tipe Pangkalan AL (Lanal) menjadi Pangkalan Utama TNI AL (Lantamal) Pontianak.

Rencananya Lanud Ranai, Natuna, Kepri, akan ditingkatkan dari tipe C ke tipe B. Lanud ini sendiri merupakan salah satu daerah terdepan Indonesia yang menghadap Laut Cina Selatan.
"Landasan kita panjangin, 4 kapal kita tambahin. Pesawat-pesawat kita nanti ditambah," kata Ryamizard.

Berdasarkan informasi, landasan pacu diperpanjang dengan tujuan agar pesawat tempur sepeti F-16 dapat mendarat di Lanud Ranai.

Sejumlah pesawat tempur direncanakan akan ditempatkan di Lanud tersebut secara bergantian.
Sebelumnya KSAL Laksamana Ade Supandi menyebutkan peningkatan Lanal menjadi Lantamal di Pontianak dilakukan dalam upaya antisipasi konflik di Laut China Selatan. Itu dikatakannya saat acara peresmian.

Tuesday, September 1, 2015

KAHARUDDIN TAWARKAN PEMBUATAN KAPAL SELAM DALAM NEGERI.

KAHARUDDIN TAWARKAN PEMBUATAN KAPAL SELAM DALAM NEGERI.


Pakar Kemaritiman Kaharuddin Djenod menilai jumlah peralatan perang yang dimiliki TNI tidak membuat Indonesia disegani negara lain. Dia mempunyai alasan kuat.

Kaharuddin mengatakan Indonesia perlu membuat alutsista dalam skala besar. Sebab selama ini Indonesia mengandalkan alutsista impor untuk memenuhi standar kekuatan.

"Menujukkan Pertahanan nasional bukan karena jumlah alutsista yang kita miliki, karena semua beli dari negara lain. Makanya yang harus dipercepat, menghasilkan 1 produk, yaitu kapal selam. Kalau bisa bangun ini, Indonesia dianggap 'mengerikan'," jelas Kahar saat berbincang dengan suara.com

belum lama ini di Jakarta. Sebagai pakar perkapalan lulusan Jepang, Kahar menawarkan desain kapal selam siap pakai. Dari desain yang dia buat selama 4 tahun itu, menjelaskan rinci bahan dan bentuk kapal selam sepanjang 30 meter.

"Kapal selam itu adalah produk alutsista yang menunjukkan level ketinggian suatu negara. Dari sisi jumlah sparepart, jumlah dari kapal selam itu paling kompleks.

Negara luar pun itu tetap akan melihat bagaimana kekuatan pertahanan melihatnya produk simbol, produk apa saja yang akan dibuat. Ini seperti Korea Utara, mereka bisa membuat kapal induk yang kecil-kecil," papar dia.

Kapal selam sepanjang 30 meter ini cocok untuk lautan Indonesia yang sebagian besar lautan dangkal. Proyek pembuatan kapal selam ini pun murah, hanya Rp 200 miliar persatu unit.

"Ukuran ini paling pas. Ketika sudah bangun yang 30 meter, maka bisa membangun yang lebih besar, bahkan sampai 60 meter. Pembuatan kapal selam ini membutuhkan dana Rp 200 miliar," ceritanya.

PT DI LAKUKAN UJI COBA EC-725 TNI-AU

PT DI LAKUKAN UJI COBA EC-725 TNI-AU.

Helikopter EC-725 Caracal yang akan digunakan oleh TNI AU di ujicoba oleh PT DI, di Bandung, Jawa BARAT. EC-725 digunakan TNI AU sebagai combat search and rescue Helikopter.

Indonesia memesan 6 unit helikopter EC-725. Helikopter ini diperuntukan untuk misi khusus SAR Tempur. Namun, Indonesia membuka kemungkinan menambah heli sejenis ini hingga mencapai 16 unit atau full 1 Skadron.

UJI MERIAM 155MM CAESAR TNI-AD

UJI MERIAM 155MM CAESAR TNI-AD

Suara dari laras meriam 155mm Caesar begitu menggelegar. Jumat, 28 Agustus lalu, di Cipatat Bandung Jawa Barat, untuk pertama kalinya meriam SPH Caesar menyalak dan memuntahkan pelurunya di tanah air. Daya hancur meriam asal Prancis ini sungguh mengagumkan.

Saat itu, meriam Caesar dicoba untuk menembak langsung alias direct shot. Sasaran sejauh 1,4 kilometer pun hancur berantakan. Untuk uji pertama ini memang sengaja sang Caesar dicoba untuk menembak jarak dekat. Namun dalam minggu ini, Caesar akan diuji hingga batas maksimumnya.

Pada uji tembak di Lumajang nanti, Caesar akan diuji menembak sasaran bervariasi. Yaitu mulai dari jarak 18km, 20km, 30km, hingga akhirnya menembak hingga jarak 40km. Jika ujicoba ini sukses, maka sungguh merupakan lompatan besar bagi satuan armed TNI-AD.

Seperti telah dipublikasikan sebelumnya, Kementrian Pertahanan membeli sebanyak 37 unit meriam Caesar asal Prancis. Kontrak pembelian saat itu senilai US $ 240 juta.

Rusia akan berikan soft loan untuk belanja alutsista RI

Rusia akan berikan soft loan untuk belanja alutsista RI

Anggota Komisi I DPR RI TB Hasanuddin mengatakan Rusia akan memberikan soft loan sebesar 3 miliar dolar AS kepada Indonesia guna membeli alat utama sistem persenjataan (alutsista).

Keinginan Rusia itu didapatkan oleh Komisi I DPR RI setelah melakukan kunjungan kerja ke Rusia beberapa waktu lalu.

"Untuk TNI dikatakan, Rusia siap memberikan soft loan yang sangat murah untuk membeli alutsista. Rusia bersedia memberikan soft loan kepada Indonesia sebesar 3 miliar dolar AS. Dalam waktu dekat investor Rusia akan datang," kata TB Hasanuddin di Gedung DPR RI, Jakarta, Senin.

Atas tawaran Rusia itu, dirinya sudah menyampaikan kepada TNI dan juga Menteri Bappenas/Kepala PPN.

"Kita akan sampaikan kepada TNI dan saya sudah sampaikan juga kepada Menteri Bappenas. Mereka akan pelajari seperti apa soft loan. Soft loan itu lebih murah dibanding kredit ekspor (KE)," katanya.

Kunjungan Komisi I DPR RI  adalah juga untuk bertemu dengan masyarakat Indonesia yang ada di Rusia. (Antara)

Kapal Selam Lokomotif Kemajuan Industri RI

Kapal Selam Lokomotif Kemajuan Industri RI
Oleh : Amal Nur Ngazis


Menyandang sebagai negara maritim terbesar di dunia, Indonesia memiliki tantangan berat. Dengan pasar yang besar diperlukan angkutan laut yang menghubungkan serta menyuplai kebutuhan primer dan sekunder ke seluruh wilayah Nusantara.

Problemnya jumlah angkutan laut yang ada saat ini belum mampu memenuhi kebutuhan tersebut, dan menempatkan Indonesia sebagai negara maritim besar yang mandiri.

Belum lagi, jumlah angkutan laut yang berlayar di perairan Indonesia sebagian besar merupakan angkutan laut buatan luar negeri. Belum terlihat ada kemandirian dalam visi negara maritim.

Untuk mencapai negara maritim yang mandiri dan memenuhi kebutuhan dalam negeri, industri angkatan laut atau galangan kapal harus menjadi prioritas pemerintah. Industri kapal tidak saja harus mampu memproduksi kapal, tapi kapal buatan anak bangsa harus bersaing dengan kapal produk luar negeri.

Kemampuan anak bangsa untuk membuat kapal secara mandiri sudah tidak ada masalah, hanya saja dukungan ekosistem industri angkutan laut atau galangan kapal dalam negeri masih sangat minim.

Misalnya saja, pemerintah masih belum memberikan insentif untuk impor material bagi bahan pembuat kapal. Sementara itu, untuk membuat kapal di dalam negeri, sebagian besar komponen atau material harus impor.

Salah satu pakar perkapalan Indonesia, Kaharuddin Djenod Daeng Manyambeang memprihatinkan kondisi ini. Ia berharap pemerintah mulai menyadari ketertinggalan Indonesia dalam membangun poros maritim, yang saat ini menjadi program besar pemerintahan Presiden Joko Widodo.

Secara lebih detail, Kaharuddin menantang pemerintah untuk benar-benar menjadikan industri angkutan laut atau galangan kapal menjadi industri prioritas bagi pemerintah. Sebab, industri angkutan laut akan memacu dan memberi dampak ganda pada industri lainnya.

Peraih Penghargaan Achmad Bakrie (PAB) XIII 2015 untuk Negeri itu bahkan menantang pemerintah agar mau membuat kapal selam secara mandiri. Tujuannya, meningkatkan kewibawaan dan harga diri sebagai bangsa maritim.

Jika bisa membuat kapal selam, Indonesia sudah memegang kemandirian industri apa pun. Kapal selam adalah lokomotif kemajuan bangsa.

Berikut wawacara VIVA.co.id dengan perintis perusahaan desain kapal pertama di Indonesia itu:

Anda menyoroti industri angkutan laut Indonesia. Bagaimana sebenarnya kondisi industri angkutan laut saat ini?

Dibandingkan tahun 2005, industri kapal kita sudah ada peningkatan. Berbeda dengan sebelumnya, sudah ada kenaikan signifikan dari sisi pemilik galangan kapalnya. Dari 200-an galangan kapal yang ada ini, dari satu sisi kebutuhan galangan kapal untuk prepare dan maintenance sangat tinggi. Sementara, order penuh. Pembangunan kapal baru ini yang banyak dialami. Nggak sampai belasan dari 200-an galangan kapal tersebut.

Kendalanya?

Sampai saat ini, untuk bersaing dengan kapal luar negeri, kendalanya tidak ada perlindungan dalam negeri terkait kebijakan pajak. Ini sudah umum dan sering kami suarakan sampai sekarang belum ada solusi. Akhirnya, perusahaan pelayaran lebih pilih beli kapal dari luar negeri, karena bebas bea masuk dan pajak, dibanding bangun kapal baru dalam negeri.

Beli material baja kena pajak, kena bea masuk. Akhirnya, harga kapal 15 persen lebih mahal dari kapal luar, itu komponen saja lho. Kalau kapal jadi, itu bebas pajak dan bea masuk.

Bagaimana agar kemampuan industri kapal Indonesia bisa selevel dengan di luar negeri?

Dari sisi infrastruktur dan sumber daya manusia (SDM) kita tidak kalah untuk hasilkan produk kapal, baik itu dari sisi teknologinya, efektivitasnya. Itu bahkan bisa lebih baik, mampu bikin kapal jadi lebih baik. Hanya kesempatan menuju ke sana, mencoba untuk meraba-raba keluar dari permasalahan ini.

Galangan kapal di Indonesia yang sudah bikin kapal sendiri berapa banyak?

Kapal produk Indonesia sudah banyak. Kebanyakan dari proyek pemerintah, owner-nya pemerintah, baik itu Kementerian Perhubungan, Pertahanan. Itu sudah cukup banyak. Tapi, pesanan swasta sangat kecil di dalam negeri.

Kapal biasa sudah ada, seperti kapal PAL Star 50, PAL carrier 50 ribu ton, tanker 30 ribu ton sudah dibuat di PT PAL. Kapal lain juga, terutama kapal generik, yang saya sebut ya, kapal tongkang, kapal angkut, ada galangan yang bikin buat pesanan dari dalam negeri.

Tapi, meskipun ada, jumlahnya baru puluhan dalam satu tahun. Kalau dibandingkan dengan potensi pasar Indonesia, itu tidak ada apa-apanya persentasenya. Sementara dari sisi pemerintah, kebanyakan kapal khusus, kapal SAR, pertahanan, dan riset.

Secara ekosistem, bagaimana kondisi industri galangan kapal Indonesia?

Secara ekosistem yang belum lengkap industri spare part, industri pendukung seperti mesin utamanya, genset, gearbox, hampir semua tidak ada yang di dalam negeri, impor semua. Kurang lebih, kalau bangun kapal di Indonesia itu 20-30 persen yang bisa dipenuhi dari material dalam negeri, selebihnya itu impor. Bisa dibayangkan impor dengan kena pajak, sedangkan persentase pajak barang impor besar.

Lantas, soal komponen dalam negeri, apa saja yang Indonesia miliki?

Baja, aluminium malah belum, itu pun masih dari luar. Produk aluminium untuk kapal berbeda dengan aluminium biasa. Baja sebagian masih impor, meski jumlahnya kecil. Notabene yang bisa dipasok untuk spare part tidak signifikan, gampangnya, furniturnya, tempat tidurnya yang bisa dipasok dari dalam negeri, itu pun dari sisi value added tidak terlalu banyak.

Meskipun kita sudah ada industri pendukung seperti industri radar sudah berkembang, alutsista juga sudah mulai merintis. Tapi, itu masih rintisan, ya tahap rintisan dari sisi jumlah belum signifikan, belum banyak. Yang patut dihargai, sudah mulai munculnya rintisan anak bangsa membangun produk untuk kemandirian.

Apa teknologi terbaik di dalam negeri yang dipakai untuk bersaing dengan kapal asing?

Kemampuan galangan kapal perlu ditingkatkan, terutama untuk mendesain.
Selama ini, galangan kapal kita yang bisa desain itu hanya PT PAL. Selebihnya, galangan kapal BUMN lainnya hanya bagian dari desain, selebihnya mereka tidak bisa. Kalau ingin bisa bersaing, minimal bangun kekuatan desain.

Dengan ini, maka seterusnya bisa bangun metode manufacturing, efisiensi, sehingga optimal. Ini setelah kemampuan kuat di desain. Selebihnya pembangunan SDM. Desain kita belum mateng. Cukup berat harus bersaing dengan luar negeri.

Dengan kondisi industri galangan kapal seperti itu, lantas kemampuan apa yang bisa ditingkatkan?

Idealnya, untuk jalankan, saat ini pemerintah itu jadi arranger semuanya, tanpa itu nonsense. Kalau diharapkan galangan kapal bisa bersaing, harus punya kemampuan desain, itu butuh investasi besar. Harus ciptakan SDM untuk menunjang kemampuan desain dan siapa yang bisa bangun galangan kapal? Ini berat.

Jadi, akhirnya fungsi pemerintah untuk atur itu hal yang mutlak, agar lebih bersaing dengan luar negeri. Bersaing di dalam negeri saja kita berat, karena tidak ada perlindungan dari pemerintah dan industri maritim. Nah, akhirnya soal galangan kapal, karena skalanya ratusan hingga ribuan kali industri lain, anggap saja dari industri elektronik dan otomotif, sehingga bicara ini tidak lepas dari pemerintah.

Apa kontribusi pemerintah sejauh ini?

Parsial, terlalu parsial, termasuk pajak yang paling dasar itu tadi. Tak ada kebijakan pajak yang menguntungkan. Fungsi pemerintah sebagai pengatur lalu lintas ekonomi dalam negeri tidak ada. Kalau ada potensi pasar, perlu kekuatan besar, kebutuhan kapal besar karena kita negara maritim. Kalau itu bisa diatur pemerintah dengan perbankan, kalau secara aktif atur semuanya, cukup pasar dalam negeri bisa hidupkan 200 galangan kapal.

Terus apa yang diharapkan?

Pertama adalah kebijakan memberikan bebas pajak dan bea masuk barang yang punya multiplier effect seperti galangan kapal. Tempatkan industri maritim sebagai industri yang proritas, agar jauh lebih menggiatkan industri maritim.

Pemerintahan Presiden Jokowi punya visi jadi poros maritim dunia. Apa kontribusi industri galangan kapal?

Pertama, perlu diperjelas visi poros maritim dunia itu bukan hanya sebagai user. Itu yang perlu diperbaiki. Kalau sebagai user, cukup beli kapal dan bangun pelabuhan yang banyak. Tapi, poros maritim dunia itu adalah seberapa besar kita bisa penuhi kebutuhan dalam negeri. Jadi, bukan hanya user, kita mandiri dan berdaulat dalam memenuhi kebutuhan dalam negeri. Perlu ada perubahan mindset dari pemerintah.

Dalam satu tahun ini, lebih banyak bangun infrastruktur, banyakin pelabuhan, dan pemenuhan kapal saja. Mudah-mudahan nanti ada kebijakan, saat ini belum ada kebijakan yang menopang industri maritim untuk penuhi kebutuhan dalam negeri.

Apakah pemerintah sudah berdialog dengan pelaku industri galangan kapal?

Sudah. Akademisi dan pelaku galangan kapal sudah bertemu dengan menko kemaritiman yang lama. Cuma, ya, sekali lagi sudah sampaikan aspirasi, menko kemaritiman lama sudah mulai paham, tapi kini balik lagi, mulai dari nol. (Karena ada reshuffle kabinet). Menko kemaritiman lama cukup intens dan aktif dengan asosiasi serta perkumpulan intelektual maritim untuk menggambar petanya, dan bagaimana merumuskan roadmap bangun poros maritim.

Menko kemaritiman paling tidak sudah kumpulkan permasalahan yang ada. Kenapa industri maritim belum banyak berbicara, dan responsnya waktu itu positif dan memang butuh waktu. Mudah-mudahan pergantian menko tidak serta merta harus hapus yang sudah dibicarakan sebelumnya.

Dalam sambutan saat meraih Penghargaan Achmad Bakrie XIII 2015 untuk Negeri, Anda menantang pemerintah bangun kapal selam 30 meter. Apa urgensinya bagi Indonesia?

Hehehe...kalau disebut menantang, ya memang nggak apa-apalah, memang sedikit ingin push pemerintah. Hampir seluruh negara maju, seperti Amerika Serikat, kemajuan teknologi bidang tertentu dimulai dari kemajuan bidang alutsista. Ini, jadi lokomotif industri lain, ini hal wajar dan Jepang, Eropa jadi lokomotif.

Kedua, dalam alutsista sendiri, kalau kita lihat banyaknya jenis alutsista, yang jadi simbol kekuatan militer suatu negara adalah kapal selam, kapal induk, dan pesawat tempur. Tiga ini yang jadi tolok ukur. Secara jumlah elemen, yang harus didesain, kapal selam itu yang tertinggi.

Tingkat kesulitannya tertinggi dari semua alutsista, sehingga itu jadi simbol. Jika suatu negara mampu bangun kapal selam, negara itu bisa bangun industri lain, jangan dianggap remeh. Kapal selam itu simbol. Masing-masing negara akan pikirkan itu.

Selain itu?

Ketiga, yang dilihat, ditakuti dari negara lain itu, bukan seberapa banyak kita beli dan apa tipe alutsistanya. Tapi, yang jadikan negara lain hormati kita adalah kemampuan buat alutsista sendiri. Kita punya sekian kapal selam, pesawat tempur, dan kapal induk, tapi kalau itu semua beli, itu hanya bisa takuti negara tetangga saja, seperti Malaysia dan mereka juga beli.

Australia, mereka sama-sama beli ke AS juga dengan F16. Tapi, mereka tahu kuncinya alutsista itu, wong kita beli dari mereka. Itu artinya, bagaimana kita bangun alutsista sendiri itu bisa naikkan harga diri dan kewibawaan negara. Bukan sekadar bangun kapal selam.

Keempat, karena kesulitan tinggi dan melibatkan bidang keahlian tertentu dalam bangun kapal selam, itu otomatis tingkatkan kemampuan galangan kapal dan kapal lainnya. Kalau kapal selam mampu secara desain, kita akan mampu bikin kapal tanker dan lainnya. Ini multiplier effect ke industri lainnya. Ada semua efeknya dengan galangan kapal dan dampak ke industri lainnya.

Negara mana saja yang sudah memiliki kemampuan seperti itu?

Jepang itu harus kita contoh. Dia beli kapal selam dari Belanda. Satu dipakai, satu dibongkar untuk ambil ilmunya, bikin sendiri. Mereka berani buat kapal kapal selam sendiri dengan fasilitas yang sederhana. Istilahnya, Jepang bikin dengan fasilitas seperti bangunan di kampung itu lho, pakai bambu-bambu, seperti rumah di kampung untuk penahan dan penyangga.

Kapal selam yang butuh presisi, mereka berani dengan fasilitas seperti itu. Ini keberanian dan rasa percaya diri, makanya saya sengaja sentil itu. Yang kita butuh adalah keberanian dan rasa percaya diri untuk bangun kemandirian alutsista. Itu jadi lokomotif kemajuan industri seluruhnya.

Anda lihat, Samsung dan Hyundai di Korea Selatan dan perusahaan Jepang, misalnya Mitsubishi, itu awalnya dari industri maritim. Itu contoh dari Jepang. Mitsubishi dan lainnya, Yasuda, itu dari industri maritim. Baru derivatifnya industri otomotif, elektronik, dan lainnya.

Ini lokomotif, kalau ini bisa, galangan kapal efeknya. Dan penguatan di industri turunannya bisa mobil, elektronik, dan lainnya. Makanya, dulu Pak BJ Habibie itu bangun PT DI Nurtanio, PT PAL, dan lainnya, sayang kita dijegal di tengah jalan. Efeknya dan spektrumnya luas.

Apa harapan ke pemerintah agar industri ini jadi industri prioritas?
Harapan saya, pemerintah mau melihat sejarah negara maju yang ada. Mulai dari Inggris dengan Eropa, AS, Jepang, China, Korea Selatan, dan Vienam. Kemarin, pertumbuhan ekonomi Vietnam melebihi RI. Pemerintah bisa belajar bangun prioritas industri yang ada. Tidak parsial, tapi pemerintah fokus industri prioritas, itu otomatis bisa kembangkan industri lain. Belajar dan melihat negara maju bikin industri prioritas.

Apakah industri galangan kapal ini sudah menjadi industri prioritas?

Harusnya ini jadi prioritas. Waktu saya tanya ke Kementerian Perindustrian, jawabannya sudah masuk dalam industri prioritas. Tapi, di sana ada puluhan industri. Bayangkan, galangan kapal disamakan industri minyak atsiri, itu disamakan. Itu ada puluhan dan sama. Itu namanya bukan prioritas.

Kalau ada puluhan, yang berikan prioritas yang mana, itu yang perlu perbaikan. Jelas kita negara maritim, dan tidak harus pakai jalan negara lain. Kita sadari, identitas kita adalah maritim, makanya industri maritim harus jadi prioritasnya.

Friday, August 28, 2015

Panglima TNI lepas KRI Bung Tomo berlayar ke perairan Lebanon

Panglima TNI lepas KRI Bung Tomo berlayar ke perairan Lebanon

Merdeka - Dalam rangka Satgas Maritime Task Force (MTF) TNI Konga XXVIII-H Unfil Lebanon Tahun 2015, TNI Angkatan Laut (TNI AL) melepas keberangkatan salah satu kapal perang terbaru dari jenis Multi Role Light Frigate (MLRF) yaitu KRI Bung Tomo-357 di Dermaga Mako Kolinlamil, Tanjung Priok, Jakarta Utara, Kamis (27/8).

Dalam pelepasan KRI Bung Tomo-357 ini, dipimpin oleh Panglima TNI Jenderal Gatot Nurmantyo dan didampingi Kepala Staf TNI Angkatan Laut (Kasal) Laksamana Ade Supandi.

"Dalam pemberangkatan ini, para prajurit mempunyai tugas pokok yaitu mengembangkan misi PBB dan melaksanakan Maritime Interdiction Operation (MIO) untuk membantu Angkatan Bersenjata Lebanon atau LAF dalam mencegah pemasukan senjata ilegal dan materiil pendukung lainnya ke Lebanon, serta membantu LAF dalam meningkatkan kemampuan pelaksanaan tugas penegakan kedaulatan," kata Gatot di Kolinlamil, Tanjung Priok, Jakarta Utara, Kamis (27/8).

Dalam pemberangkatannya nanti, KRI Bung Tomo-357 yang dikomandani okeh Kolonel (P) Yayan Sofiyan selaku Dansatgas MTF Kongan XXVIII-H/UNFIL TA 2015 ini, merupakan KRI yang akan menggantikan KRI Sultan Iskandar Muda (KRI SIM-367) yang saat ini tengah beroperasi di perairan Lebanon hampir satu tahun lamanya.

"Dengan tujuan untuk mengemban misi perdamaian dunia sesuai mandat Dewan Keamanan PBB nomor 1071, yang akan bergabung dengan kapal perang Angkatan Laut negara lainnya yang tergabung dalam Gugus Tugas Maritim (Maritime Task Force) di perairan Lebanon ini, KRI Tomo-357 membawa sebanyak 107 Prajurit," jelas Gatot.

Gatot memaparkan, 107 prajurit yang tergabung itu merupakan prajurit pilihan melalui beberapa seleksi yang sangat ketat. "Prajurit ini pilihan, mereka terdiri dari 88 prajurit awak kapal perang, pilot dan kru Heli sebanyak 7 orang, perwira kesehatan (dokter), Kopaska, Penyelam, Perwira Intelijen dan Perwira Penerangan," tutupnya.

Di tengah hutan, Kostrad ajari tentara AS kuliti & minum darah kobra

Di tengah hutan, Kostrad ajari tentara AS kuliti & minum darah kobra


Merdeka - Setelah menjalani latihan perang kota, prajurit Komando Strategis Angkatan Darat (Kostrad) dan tentara AS berlatih cara hidup di tengah hutan atau jungle survival. Seluruh latihan ini dilaksanakan di Daerah Latihan Kostrad, Gunung Cakra, Sukabumi.

Dalam siaran pers yang diterima merdeka.com, Kamis (27/8), latihan ini dipimpin Danyonif Linud-328 Kostrad Letkol Inf Ade Rony Wijaya, sedangkan prajurit Angkatan Darat Amerika Serikat dipimpin Ltc Hackenberry.

Selain belajar untuk bertahan hidup di dalam hutan, para prajurit Amerika Serikat yang tergabung dalam US Army Pacific (Usarpac) ini juga diajari cara menjinakkan hewan liar, termasuk ular. Tak hanya itu, mereka juga diminta menguliti dan meminum darah kobra.



Tanpa segan, mereka langsung mendekati pelatih dari Kostrad dan menjulurkan lidahnya. Darah segar langsung dikeluarkan dan diteteskan ke mulut masing-masing prajurit.

Selain itu, mereka juga dibekali beberapa pengetahuan dan wawasan terkait cara bertahan hidup di dalam hutan dengan memanfaatkan sumber makanan di alam sekitarnya baik dari daun-daunan, buah-buahan, binatang yang bisa dikonsumsi baik cara dimasak atau langsung dimakan. Serta cara mengatasi tantangan alam, seperti rasa sakit, ketakutan, kedinginan, kebosanan, kesunyian, kehausan, dan kelaparan.

Thursday, August 27, 2015

Atase Pertahanan RI di Rusia: Indonesia Menjajaki Pembelian S-300

Atase Pertahanan RI di Rusia: Indonesia Menjajaki Pembelian S-300


Kerjasama Indonesia Rusia di bidang militer terus berkembang. Atase Pertahanan RI untuk Rusia, Kolonel (Pnb), Andi Kustoro, mengatakan TNI terus berupaya menyempurnakan alutsista-nya. Salah satunya dengan berupaya memodernisasi kemampuan peralatan tempur.


Atase Pertahanan RI untuk Rusia, Andi Kustoro (kanan) saat memberikan keterangan (GATRAnews/Svet Zakharov)

Menurut Andi, salah satu peralatan tempur yang sudah direncanakan adalah untuk menambah koleksi tank amfibi BMP3F, membeli simulator helikopter untuk Angkatan Darat, serta menjajaki pembelian S-300.

"Saat ini, Indonesia juga sedang berupaya membeli pesawat Sukhoi generasi 4++. Yaitu pesawat tempur serbaguna, supermanuvre, yang juga memiliki kemampuan stealth," tutur Andi.

Tak hanya itu, kemampuan dan daya juang pesawat tempur Indonesia juga terus ditingkatkan. "Para pilot Sukhoi terus dikirim ke pangkalan udara Rusia di Krasnodar hampir setiap tahun," katanya.  (Gatra)

Panglima TNI Tegaskan Indonesia Tak Ada Kerja Sama dengan CIA

Panglima TNI Tegaskan Indonesia Tak Ada Kerja Sama dengan CIA

Ada kabar yang meyatakan Indonesia bekerjasama dengan Central Intelligence Agency (CIA) terkait rencana pemerintah membentuk Badan Cyber Nasional. Apakah benar demikian?

Badan Cyber Nasional akan dibentuk untuk memperkuat sektor pertahanan negara. Isu kerjasama dengan CIA menyebutkan Badan Cyber akan mengawasi arus komunikasi warga lewat sistem Big Data yang dirumorkan akan mampu menyedot pembicaraan pribadi di aplikasi WhatsApp, Blackberry Messenger (BBM) dan program pengiriman pesan instan serta jejaring sosial lainnya.

"Nggak ada. Belum ada (kerjasama dengan CIA)," tegas Panglima TNI Jenderal Gatot Nurmantyo di Gedung Kementan, Ragunan, Jaksel, Rabu (26/8/2015).

Mengenai pembentukan Badan Cyber Nasional sendiri, kata Gatot, perencanaan sudah dilakukan jauh-jauh hari. Pada setiap matra di TNI pun sudah dibentuk kesatuan khusus yang menangani pertahanan dari segi cyber.

"Itu sudah lama ada (persiapan Badan Cyber Nasional). Kalau matra cyber (di TNI) itu nggak ada. Matra itu AU, AD, AL. Tapi di masing-masing itu ada (yang menangani permasalahan cyber)," tutur Gatot.

Sebelumnya, isu kerjasama Indonesia dengan CIA juga sudah dibantah oleh Kepala Staf Presiden Luhut Pandjaitan. Pria yang juga merangkap jabatan sebagai Menkopolhukam tersebut menyatakan isu sedot data tidak signifikan.

Pasalnya Big Data sendiri merupakan istilah umum untuk himpunan data dalam jumlah besar, rumit, dan tidak terstruktur. Sehingga sulit ditangani kalau hanya menggunakan manajemen basis data.

"Jadi tidak nyambung dengan isu sedot data. Justru pembangunan cyber sekuriti nasional ini dimaksudkan untuk menangkis serangan, khususnya dari luar yang bisa memperlemah bangsa. Sistem cyber yang akan dibentuk bukan malah untuk memata-matai warga negara sendiri," jelas Luhut dalam keterangan tertulisnya, Minggu (23/8). 

MENHAN JEPANG - RI TINDAK LANJUTI KERJASAMA PERTAHANAN

MENHAN JEPANG - RI TINDAK LANJUTI KERJASAMA PERTAHANAN.

Wamenhan Jepang Bidang Urusan Internasional Mr. Hideshi Tokuchi saat melakukan kunjungan ke Kemhan, Rabu (26/8), menyampaikan salam hormat Menhan Jepang untuk Menhan RI, atas terlaksananya penandatanganan perjanjian kerjasama (MoU) dalam bidang pertahanan pada tanggal 23 Maret 2015 lalu.

MoU yang ditandatangani Menhan RI Ryamizard Ryacudu dan Menhan Jepang Jend. Nakatani berlangsung di Tokyo Jepang dengan disaksikan Presiden RI Joko Widodo dan PM Jepang Shinzo Abe.

Terkait MoU yang telah ditandatangani kedua negara, Wamenhan Jepang berharap Indonesia dan Jepang dapat melanjutkan pembicaraan kerjasama bilateral saat berlangsungnya ADMM Plus pada bulan November nanti di Malaysia.

Hal ini juga sebagai tindak lanjut pertemuan kedua Menhan saat bertemu dalam Shangrilla dialogue di Singapura pada bulan Mei 2015 lalu. Pemerintah Jepang berharap Indonesia dapat mendukung terselenggaranya ADMM Plus One di Laos pada tahun berikutnya dimana Jepang menjadi salah satu pesertanya.

Lebih lanjut dikatakannya bahwa kegiatan ini merupakan kesempatan berharga bagi peningkatan kerjasama antara Jepang dengan negara-negara ASEAN. Menanggapi hal tersebut, Menhan RI menyatakan diplomasi pertahanan yang dilakukan Indonesia adalah bagaimana ikut serta dalam usaha perdamaian dunia dengan harapan tercapai wilayah kawasan yang aman dan damai.

Indonesia berupaya untuk mengajak negara-negara ASEAN untuk selalu menjaga keamanan dan perdamaian di wilayah kawasan termasuk diantaranya Jepang, Tiongkok dan Korea. Untuk itu Menhan RI berharap melalui pertemuan-pertemuan dan diplomasi pertahanan (dialogue) yang dilakukan, segala konflik yang muncul di kawasan dapat terselesaikan dengan baik tanpa menimbulkan ketegangan diantara negara-negara di dunia.

Menurut Menhan RI, ancaman yang paling nyata di Indonesia dan dunia saat ini adalah ancaman teroris, bencana alam, wabah penyakit, pelanggaran perbatasan, pencurian sumber daya alam, cyber, narkoba dan pemberontakan. Jika itu dijadikan ancaman bersama negara-negara di dunia maka diharapkan tidak akan terjadi perang antar negara karena ancaman tersebut sudah jelas.
Hal ini juga yang mendasari konsep pertahanan atau diplomasi pertahanan Indonesia saat ini.

Sunday, August 23, 2015

Lanal Palembang Amankan 4 Perompak kapal spesialis solar

Lanal Palembang Amankan 4 Perompak kapal spesialis solar

Komplotan perompak dengan meminta secara paksa bahan bakar minyak (BBM) jenis solar kepada para nakhoda kapal akhirnya berhasil diringkus anggota TNI Pangkalan Angkatan Laut (Lanal) Palembang. Dari para pelaku diamankan enam jeriken berukuran 30 liter dan beragam jenis senjata tajam.

Ke empat pelaku adalah Apri (28) dan Aripin alias Ripin (28), warga Jalan Mayor Zen, Lorong Badai, Kecamatan Kalidoni, Palembang. Sedangkan dua rekannya, Wijaya Kusuma (25) dan Iskandar (19), warga Pulau Kemaro, RT 18, Kecamatan Ilir Timur II, Palembang. Sedangkan dua lainnya berhasil melarikan diri.

Menurut keterangan pelaku Apri, mereka sudah beraksi merompak kapal sebanyak lima kali. Mereka menghampiri kapal batubara yang tengah bersandar dengan mengendarai speedboat.

"Kami memang biasa mintai solar ke kapal-kapal batubara. Hasilnya dijual lagi," ungkap Apri di Mako Lanal Palembang, Rabu (19/8).

Komandan Lanal Palembang Kolonel Laut (P) Purwanto mengungkapkan, ke empat pelaku ditangkap karena tepergok sedang merompak sebuah kapal di perairan Pulau Kemaro, Kecamatan Ilir Timur II Palembang, Selasa (18/8), sekitar pukul 11.30 WIB.

Awalnya tiga pelaku yang menggunakan speedboat naik ke atas kapal TB Noah IV, dinakhodai Kristian Taghuriri yang sedang bersandar. Kemudian mereka meminta solar secara paksa. Lantaran tidak diberi, pelaku memukul nakhoda sehingga terjadi perlawanan oleh ABK dan nakhoda.

Ketiga pelaku meninggalkan kapal sambil mengancam akan kembali lagi. Tak lama, pelaku datang lagi berjumlah enam orang dengan menggunakan dua speedboat dan membawa senjata tajam berupa parang panjang, pisau dan belati. Korban pun melapor ke Posmat 1 Ilir Lanal Palembang.

"Saat anggota datang, para pelaku sedang beraksi. Empat pelaku ditangkap sedangkan dua lainnya kabur," ujarnya.

Ketika disinggung apakah mereka merupakan sindikat, Purwanto mengaku belum mengetahui dan sedang melakukan pengembangan. Sebab, dari hasil penyelidikan para pelaku dikenal licin dan berbahaya.

"Mereka kita kenakan Undang-undang Tindak Pidana Pelayaran Pasal 441 KUHP dengan ancaman penjara selama 15 tahun," pungkasnya. (Merdeka)
Jangan sampai ketinggalan untuk menyaksikan tayangan perdana Film Militer Indonesia yang berjudul PATRIOT yang mulai tayang 30 Agustus 2015 Pukul 21.30 WIB di NET TV
Jangan Lupa Bagikan. KOMANDO



Via Youtube: https://www.youtube.com/my_videos?o=U

Friday, August 21, 2015

Tak Boleh Latihan dengan Kopassus, Brimob Minta Dilatih Inggris

Kapolri: Kalau di Rindam sama saja dengan latihan biasa.



Suara. com - Kapolri Jenderal Badrodin Haiti mengatakan, pihaknya akan menjalin kerjasama dengan Kepolisian dan militer negara lain untuk latihan tempur bagi Brimob.

Hal itu dilakukan lantaran Panglima TNI Gatot Nurmantyo tidak mengizinkan anggota Brimob latihan bersama dengan Komando Pasukan Khusus (Kopassus) Angkatan Darat di Batujajar, Bandung, Jawa Barat.

"Kami ada beberapa alternatif kalau memang dari TNI tidak bisa melakukan (melatih Brimob). Kami bisa dengan negara lain, salah satunya Inggris," kata Badrodin di Mabes Polri, Jakarta Selatan, Jumat (21/8/2015.

Rencana latihannya akan dilakukan di Indonesia dengan mendatangkan pelatih dari pasukan khusus kepolisian dan angkatan bersenjata Inggris. Namun Badrodin belum menentukan lokasinya.

"‎latihannya di tempat tertentu. (Pelatih) dari kepolisiannya dan dari militernya juga ada," ujarnya.

Badrodin mengungkapkan, surat permintaannya agar Kopassus melibatkan Brimob latihan raider telah mendapat jawaban dari Panglima TNI Gatot Nurmantyo yang dianggap tidak memuaskan.

"Panglima TNI sudah berikan jawaban, bahwa latihan tidak dilakukan di Batujajar, tetapi dilakukan di Rindam-Rindam. Saya pikir, kalau di Rindam sama saja dengan latihan lain (biasa). Oleh karena itu kami akan terima tawaran dari beberapa negara," imbuhnya.

Badrodin mengaku, latihan raider untuk Brimob dibutuhkan untuk operasi pengejaran teroris yang banyak terjadi di kawasan hutan dan pegunungan, seperti di wilayah Poso, Sulawesi Tengah.

"Bagaimana bisa bertahan, bagaimana sistem evakuasinya semuanya harus  dipelajari," tandasnya.

INDONESIA JAJAKI PEMBELIAN MISIL PERTAHANAN UDARA S-300

INDONESIA JAJAKI PEMBELIAN MISIL PERTAHANAN UDARA S-300

Moskow – Kerjasama Indonesia Rusia di bidang militer terus berkembang. Atase Pertahanan RI untuk Rusia, Kolonel (Pnb), Andi Kustoro, mengatakan TNI terus berupaya menyempurnakan alutsista-nya. Salah satunya dengan berupaya memodernisasi kemampuan peralatan tempur.

Menurut Andi, salah satu peralatan tempur yang sudah direncanakan adalah untuk menambah koleksi tank amfibi BMP3F, membeli simulator helikopter untuk Angkatan Darat, serta menjajaki pembelian S-300.

“Saat ini, Indonesia juga sedang berupaya membeli pesawat Sukhoi generasi 4++. Yaitu pesawat tempur serbaguna, supermanuvre, yang juga memiliki kemampuan stealth,” tutur Andi.
Tak hanya itu, kemampuan dan daya juang pesawat tempur Indonesia juga terus ditingkatkan. “Para pilot Sukhoi terus dikirim ke pangkalan udara Rusia di Krasnodar hampir setiap tahun,” katanya.

MENHAN UJI ROKET R-HAN 122B

MENHAN UJI ROKET R-HAN 122B


Garut – Kementerian Pertahanan bersama Konsorsium Roket Nasional melaksanakan Uji Dinamik 2 Roket R-Han 122B hasil penyempurnaan. Uji coba disaksikan oleh Menteri Pertahanan Ryamizard Ryacudu di Balai Produksi dan Pengujian Roket LAPAN, Pamengpeuk, Garut, Kamis (20/8).

Konsorsium Roket Nasional yang terdiri dari Kemhan, Kemristek dan Dikti, LAPAN, PT. DI, PT. Pindad, PT. Dahana, PT. Krakatau Steel, ITB dan ITS telah mengembangkan roket kaliber 122 mm dengan panjang propelan 2 meter dengan nama R-Han 122B yang mampu menjangkau sasaran darat ke darat sejauh 23 km.

Roket R-Han 122B merupakan salah satu dari tujuh Program Strategis Nasional untuk memenuhi Kebutuhan Alutsista TNI. Arah pengembangan Roket Nasional adalah memenuhi spesifikasi teknis pengguna yakni RX-1220. Karena itu, R-Han 122B yang dikembangkan saat ini adalah dalam kerangka pencapaian sasaran tersebut. Program Roket R-Han 122B dimulai Tahun 2014 dengan biaya APBN.

Uji Dinamik 2 ini merupakan perbaikan minor dalam penyempurnaan bidang desain untuk memperbaiki trajectory atau lintasan stabilitas dan jarak capai dari Uji Dinamik 1 yang telah dilaksanakan pada bulan Juni 2015 sebagai implementasi dari Konsorsium pada tahun 2014. Pada Uji Dinamik ke 2 Roket R-Han 122B ini dilakukan sebanyak 6 unit roket dengan desain Roket RM 70 Grad Marinir.

Selain menjadi salah satu forum pembelajaran dalam mengejar teknologi peroketan di lingkungan Kemhan dan TNI, Uji Dinamik Roket R-Han 122B ini juga digunakan sebagai wadah koordinasi guna mewujudkan sinkronisasi, serta sebagai sarana evaluasi dan diskusi dalam proses penyelenggaraan kegiatan penelitian dan pengembangan di bidang pertahanan antar industri pertahanan.

Melalui forum ini pula, diharapkan dapat diperoleh kesamaan visi dan persepsi maupun pemahaman tentang mekanisme kerja roket dan bagaimana mengoperasionalkan dan merawat roket secara baik dan benar dalam meningkatkan kualitas produk dan mengurangi ketergantungan terhadap produk luar negeri.

Kegiatan penyempurnaan oleh Konsorsium diharapkan mendapatkan hasil yang maksimal, sehingga kedepan akan didorong untuk memenuhi kebutuhan TNI AL sebagai pengguna awal. Bila program ini berhasil, maka Kemhan juga akan terus mendorong pemenuhan kebutuhan Roket dari dalam negeri dengan berbagai spektek untuk memenuhi kebutuhan Tri Matra (TNI AD, TNI AL, dan TNI AU).

Sementara itu Menhan mengatakan, peluncuran Roket R-Han 122B ini adalah bagian dari usaha Bangsa Indonesia untuk membangun kekuatan pertahanan yang berdaya tangkal tinggi guna menjamin kedaulatan negara, keutuhan wilayah NKRI dan keselamatan segenap bangsa.

Pemerintah telah menetapkan tujuh Program Strategis Nasional di bidang Alutsista, salah satu diantaranya adalah Roket Pertahanan atau disingkat R-Han. Program Roket R-Han 122B ini adalah pelaksanaan dari Program Nasional Strategis yang dinanti-nantikan banyak pihak, karena keberhasilan program ini akan menorehkan sejarah hasil karya anak bangsa.

Menhan menyambut baik capaian pengembangan Roket R-Han 122B yang merupakan hasil penyempurnaan dari uji coba sebelumnya. Hasil yang sudah diperoleh saat ini memiliki nilai strategis dalam membangun Industri Pertahanan yang mandiri serta mampu memproduksi Alutsista yang canggih dimasa depan. “Saya menaruh perhatian yang tinggi terhadap program Roket R-Han 122B ini untuk dapat dituntaskan dan kelak menjadi kekuatan Alutsista TNI”, ungkap Menhan.

T-50 i GOLDEN EAGLE TNI-AU AKAN SAMBUT KEDATANGAN RTAF

T-50 i GOLDEN EAGLE TNI-AU AKAN SAMBUT KEDATANGAN RTAF

YOGYAKARTA - Pesawat T-50 Golden Eagle mendarat di Lanud Adi Sucipto Yogykarta. Kedatangan pesawat ini untuk menyambut tamu Royal Thai Air Force (RTAF) dalam rangka kerjasama bilateral Indonesia dan Thailand pada Sabtu 22 Agustus 2015.

"Kedatangan kita dalam rangka static show kerjasama bilateral Royal Thai Air Force (RTAF) dengan Indonesian Air Force (TNI-AU), mereka akan melihat pesawat T50 karena mereka akan membeli T50, melihat kemampuannya, kapabilitasnya, dan kemampuan bermanuvernya T50 ini meyakinkan mereka," kata Komandan Skadron Udara 15 Letkol Pnb Marda Sarjono di Lanud Adi Sucipto, Jumat (21/8/2015).

Negeri Gajah Putih itu menginginkan pesawat yang diberi nama resmi T-50 i tersebut. Di Indonesia sendiri kedatangannya sejak September 2013 hingga Februari 2014, dengan jumlah total 16 unit, yang memperkuat Skadron Udara 15 yang ber-home base di Lanud Iswahjudi, Madiun, Jawa Timur.

"Keunggulan pesawat ini sudah fly by wire digital flight control, HUD (head up display), Smart Multi Function Display (SMFD) dan avioniknya cukup bagus hampir setara dengan F16,"ujarnya.

Sarjono mengatakan, untuk pendaratan di Bandara Yogyakarta yang memiliki landasan pendek harus melihat lapangan terlebih dahulu. "Di sini lebih pendek kita gunakan aproach speed sepresisi mungkin, diharapkan landing roll-nya tidak terlalu jauh,"ujarnya.

Mayor penerbang Dharma G mengaku yang baru pertama kali mendarat di Adi Sucipto menggunakan pesawat T50 ini menyatakan ini adalah pengalaman pertama kalinya mendaratkan pesawat T-50 i di Yogyakarta. "Ini yang pertama kali landing di Yogya, jadi perlu perhitungan," katanya.

Hebat, ada patung Jenderal Soedirman di kantor Kemhan Jepang

Hebat, ada patung Jenderal Soedirman di kantor Kemhan Jepang



Masyarakat Jepang ternyata sangat menghormati Jenderal Soedirman. Sampai ada patung sang jenderal dibangun di depan Kementerian Pertahanan Tokyo.
Patung Jenderal Sudirman yang terbuat dari perunggu setinggi sekitar empat meter di halaman Kementerian Pertahanan Jepang merupakan satu-satunya patung pahlawan asing yang ada dan dipajang di Jepang. Ini merupakan fenomena yang unik dan sekaligus pula merupakan keistimewaan bagi Indonesia.

Pada tanggal 17 Agustus kemarin ada upacara kecil di sana. Kelompok Masyarakat Jepang Pencinta Indonesia melakukan upacara peletakkan karangan bunga di depan Patung Jenderal Sudirman.
Fujii Gemki, Ketua Panitia Pelaksana upacara ini, menyebutkan bahwa Jenderal Sudirman merupakan figur penting dalam sejarah Indonesia dan sekaligus juga dalam sejarah Indonesia-Jepang.
Melalui Tentara PETA yang dibentuk Jepang pada Masa Pendudukan, kontak antara bala tentara Jepang dengan Jenderal Sudirman terjadi. Jenderal Sudirman menjadi salah satu simbol penting dalam hubungan kedua negara, ujar Fujii.

"Oleh karena itu, melalui upacara peletakan karangan bunga di depan Patung Jenderal Sudirman yang pertama kalinya dilakukan hari ini (sejak patung dipajang dua atau tiga tahun yang lalu), saya berharap ritual ini akan terus berlanjut dan semakin meriah pada masa-masa mendatang, lanjut Fujii seperti dikutip dari KBRI Tokyo.

Sementara itu, Yusron Ihza Mahendra, Duta Besar Indonesia untuk Jepang yang hadir sebagai undangan dalam upacara di atas, dalam sambutannya menyatakan bahwa sejarah merupakan faktor yang amat penting bagi sebuah bangsa.

"Karena itu, mari kita belajar sejarah untuk kearifan yang lebih lagi di masa mendatang," ujar Yusron.
Kita memiliki Patung Jenderal Sudirman di Jantung Kota Tokyo, yang merupakan simbol sejarah yang kita hormati secara bersama-sama. Saya percaya bahwa melalui ikatan sejarah, kedua bangsa pun sekaligus pula mempunyai ikatan batin yang amat dekat. Hal ini tentu dapat menjadi landasan untuk hubungan yang lebih baik lagi bagi kedua bangsa di masa depan, imbuh Yusron yang memimpin Upacara Peringatan Kemerdekaan Indonesia di KBRI Tokyo.

Patung Jenderal Sudirman yang terbuat dari perunggu setinggi sekitar empat meter di halaman Kementerian Pertahanan Jepang merupakan satu-satunya patung pahlawan asing yang ada dan dipajang di Jepang. Ini merupakan fenomena yang unik dan sekaligus pula merupakan keistimewaan bagi Indonesia.