Google Adsense

Thursday, September 3, 2015

INDONESIA DEAL GANTIKAN F-5 AS DENGAN SU-35 RUSIA

INDONESIA DEAL GANTIKAN F-5 AS DENGAN SU-35 RUSIA.

Jakarta - Kementerian Pertahanan telah memutuskan akan mengganti satu skuadron atau 16 unit pesawat F-5 Tiger milik TNI Angkatan Udara yang akan memasuki masa pensiunnya dengan pesawat tempur Sukhoi SU-35 dari Rusia.

"Kita sepakat (Panglima TNI dan KSAU) akan membeli satu skuadron Sukhoi SU-35 dari Rusia untuk menggantikan pesawat tempur F-5 Tiger," kata Menhan Ryamizard Ryacudu usai sidak persenjataan milik TNI Angkatan Darat di tiga kesatuan, yakni Kopassus, Yonkav 1/1 Kostrad, dan Yonif Mekanis 201 Jaya Yudha, di Jakarta, Rabu (2/9).

Pertimbangannya Kementerian Pertahanan memilih Sukhoi sebagai pengganti F-5 Tiger, kata dia, karena penerbang TNI Angkatan Udara sudah terbiasa menggunakan Sukhoi.
"Sekarang kita memiliki pesawat tempur dari Amerika dan Rusia. Kita bukan negara yang blok-blokan," katanya.

Pembelian pesawat Sukhoi itu akan dilakukan secara bertahap sesuai dengan kemampuan keuangan negara. "Kita ingin membeli satu skuadron, tetapi disesuaikan kemampuan pemerintah," kata Ryamizard.

Mantan Kepala Staf TNI Angkatan Darat (KSAD) ini mengatakan bahwa pada bulan September 2015 akan ada penandatanganan pembelian Sukhoi dengan pihak Rusia.

Di tempat yang sama, Dirjen Perencanaan Pertahanan Kemhan Marsekal Muda TNI M. Syaugi mengatakan bahwa pembelian pesawat Sukhoi 35 yang baru melalui alih teknologi atau transfer of technology (ToT) dengan pihak Rusia.

"Ini sesuai dengan aturan yang ada bahwa kalau kita ingin membeli alutsista harus ada ToT. Semua itu disesuaikan dengan kemampuan. Jadi, berapa kemampuan anggaran kan tidak mungkin kita minta satu unit terus minta TOT bikinnya gimana, jadi disesuaikan dengan uang yang ada," kata Syaugi.

Ia mengatakan, "Pembelian pesawat tempur canggih itu akan lengkap dengan senjatanya. Lebih baik sedikit ketimbang banyak, tetapi kosongan." Kemhan menginginkan agar pembelian pesawat itu sebanyak 16 unit. Akan tetapi, disesuaikan dengan keputusan pemerintah.

"Kita ini kan belum diputuskan uangnya berapa. Kita sudah pingin beli itu cepat-cepat. Penetapan dari Bappenas itu belum keluar. Mungkin dihitung-hitung dahulu dolarnya berapa. Berapa ini mampunya negara, ini kan dari pinjaman luar negeri," kata Syaugi.
Sumber : berita satu.

MENGENAL RADAR WEIBEL TNI-AU

MENGENAL RADAR WEIBEL TNI-AU

Pada Tahun ini TNI AU diberitakan telah membeli radar baru dari Denmark. Menurut berita terdahulu, TNI AU telah memesan radar doppler produksi Denmark ini.

Weibel Scientific merupakan perusahaan asal Denmark yang memproduksi radar dengan prinsip doppler. Weibel menyediakan berbagai macam radar dengan kebutuhan yang berbeda.

TNI AU memilih radar ini karena mobile, mudah diangkut dengan pesawat terbang. Radar ini dapat beroperasi di segala cuaca. Jarak pelacakan radar mampu menjangkau sampai 1000 Km dengan jarak pengintaian antara 250 - 400 Km. Radar ini menampilkan gambar dengan tampilan 2D atau 3D. Radar Weibel juga dilengkapi Rx Digital Multi Beam Phased array.

Semua radar Weibel memiliki muzzle velocity radar system, active protection radar system, sistem doppler, tracking radar systems, multi frekuensi, ranging radar untuk platform pihak ketiga, pelacakan multi sensor, dan sistem pengintai dan pelacak.

Radar Weibel dioperasikan oleh personel TNI AU di bawah Kohanudnas (Komando Pertahanan Udara Nasional). Radar mobile ini sangat berguna untuk menutup kekurangan radar di wilayah timur Indonesia, atau untuk menambah mata di daerah yang sering menjadi daerah konflik.

MENHAN TINGKATKAN PENJAGAAN NATUNA

MENHAN TINGKATKAN PENJAGAAN NATUNA.

Konflik Laut China Selatan yang melibatkan negara Tiongkok dan sejumlah negara yang berbatasan di Asia Pasifik masih terus berlanjut. Walau Indonesia tidak terlibat langsung dalam konflik, Menteri Pertahanan Ryamizard Ryacudu menyebut perlu ada langkah antisipatif yang dilakukan Indonesia.

"Ya nanti bulan depan Natuna (makin diperkuat)," ungkap Ryamizard di usai meninjau Alutsista di Batalyon Infanteri Mekanis 201/Jaya Yudha di Cijantung, Jakarta Timur, Rabu kemarin.

Menurut Ryamizard, ia telah mempersiapkan untuk meningkatkan kekuatan militer di tubuh TNI. Mulai dari peningkatan Landasan Udara di Natuna termasuk yang baru saja dilakukan peningkatan tipe Pangkalan AL (Lanal) menjadi Pangkalan Utama TNI AL (Lantamal) Pontianak.

Rencananya Lanud Ranai, Natuna, Kepri, akan ditingkatkan dari tipe C ke tipe B. Lanud ini sendiri merupakan salah satu daerah terdepan Indonesia yang menghadap Laut Cina Selatan.
"Landasan kita panjangin, 4 kapal kita tambahin. Pesawat-pesawat kita nanti ditambah," kata Ryamizard.

Berdasarkan informasi, landasan pacu diperpanjang dengan tujuan agar pesawat tempur sepeti F-16 dapat mendarat di Lanud Ranai.

Sejumlah pesawat tempur direncanakan akan ditempatkan di Lanud tersebut secara bergantian.
Sebelumnya KSAL Laksamana Ade Supandi menyebutkan peningkatan Lanal menjadi Lantamal di Pontianak dilakukan dalam upaya antisipasi konflik di Laut China Selatan. Itu dikatakannya saat acara peresmian.

Tuesday, September 1, 2015

KAHARUDDIN TAWARKAN PEMBUATAN KAPAL SELAM DALAM NEGERI.

KAHARUDDIN TAWARKAN PEMBUATAN KAPAL SELAM DALAM NEGERI.


Pakar Kemaritiman Kaharuddin Djenod menilai jumlah peralatan perang yang dimiliki TNI tidak membuat Indonesia disegani negara lain. Dia mempunyai alasan kuat.

Kaharuddin mengatakan Indonesia perlu membuat alutsista dalam skala besar. Sebab selama ini Indonesia mengandalkan alutsista impor untuk memenuhi standar kekuatan.

"Menujukkan Pertahanan nasional bukan karena jumlah alutsista yang kita miliki, karena semua beli dari negara lain. Makanya yang harus dipercepat, menghasilkan 1 produk, yaitu kapal selam. Kalau bisa bangun ini, Indonesia dianggap 'mengerikan'," jelas Kahar saat berbincang dengan suara.com

belum lama ini di Jakarta. Sebagai pakar perkapalan lulusan Jepang, Kahar menawarkan desain kapal selam siap pakai. Dari desain yang dia buat selama 4 tahun itu, menjelaskan rinci bahan dan bentuk kapal selam sepanjang 30 meter.

"Kapal selam itu adalah produk alutsista yang menunjukkan level ketinggian suatu negara. Dari sisi jumlah sparepart, jumlah dari kapal selam itu paling kompleks.

Negara luar pun itu tetap akan melihat bagaimana kekuatan pertahanan melihatnya produk simbol, produk apa saja yang akan dibuat. Ini seperti Korea Utara, mereka bisa membuat kapal induk yang kecil-kecil," papar dia.

Kapal selam sepanjang 30 meter ini cocok untuk lautan Indonesia yang sebagian besar lautan dangkal. Proyek pembuatan kapal selam ini pun murah, hanya Rp 200 miliar persatu unit.

"Ukuran ini paling pas. Ketika sudah bangun yang 30 meter, maka bisa membangun yang lebih besar, bahkan sampai 60 meter. Pembuatan kapal selam ini membutuhkan dana Rp 200 miliar," ceritanya.

PT DI LAKUKAN UJI COBA EC-725 TNI-AU

PT DI LAKUKAN UJI COBA EC-725 TNI-AU.

Helikopter EC-725 Caracal yang akan digunakan oleh TNI AU di ujicoba oleh PT DI, di Bandung, Jawa BARAT. EC-725 digunakan TNI AU sebagai combat search and rescue Helikopter.

Indonesia memesan 6 unit helikopter EC-725. Helikopter ini diperuntukan untuk misi khusus SAR Tempur. Namun, Indonesia membuka kemungkinan menambah heli sejenis ini hingga mencapai 16 unit atau full 1 Skadron.

UJI MERIAM 155MM CAESAR TNI-AD

UJI MERIAM 155MM CAESAR TNI-AD

Suara dari laras meriam 155mm Caesar begitu menggelegar. Jumat, 28 Agustus lalu, di Cipatat Bandung Jawa Barat, untuk pertama kalinya meriam SPH Caesar menyalak dan memuntahkan pelurunya di tanah air. Daya hancur meriam asal Prancis ini sungguh mengagumkan.

Saat itu, meriam Caesar dicoba untuk menembak langsung alias direct shot. Sasaran sejauh 1,4 kilometer pun hancur berantakan. Untuk uji pertama ini memang sengaja sang Caesar dicoba untuk menembak jarak dekat. Namun dalam minggu ini, Caesar akan diuji hingga batas maksimumnya.

Pada uji tembak di Lumajang nanti, Caesar akan diuji menembak sasaran bervariasi. Yaitu mulai dari jarak 18km, 20km, 30km, hingga akhirnya menembak hingga jarak 40km. Jika ujicoba ini sukses, maka sungguh merupakan lompatan besar bagi satuan armed TNI-AD.

Seperti telah dipublikasikan sebelumnya, Kementrian Pertahanan membeli sebanyak 37 unit meriam Caesar asal Prancis. Kontrak pembelian saat itu senilai US $ 240 juta.

Rusia akan berikan soft loan untuk belanja alutsista RI

Rusia akan berikan soft loan untuk belanja alutsista RI

Anggota Komisi I DPR RI TB Hasanuddin mengatakan Rusia akan memberikan soft loan sebesar 3 miliar dolar AS kepada Indonesia guna membeli alat utama sistem persenjataan (alutsista).

Keinginan Rusia itu didapatkan oleh Komisi I DPR RI setelah melakukan kunjungan kerja ke Rusia beberapa waktu lalu.

"Untuk TNI dikatakan, Rusia siap memberikan soft loan yang sangat murah untuk membeli alutsista. Rusia bersedia memberikan soft loan kepada Indonesia sebesar 3 miliar dolar AS. Dalam waktu dekat investor Rusia akan datang," kata TB Hasanuddin di Gedung DPR RI, Jakarta, Senin.

Atas tawaran Rusia itu, dirinya sudah menyampaikan kepada TNI dan juga Menteri Bappenas/Kepala PPN.

"Kita akan sampaikan kepada TNI dan saya sudah sampaikan juga kepada Menteri Bappenas. Mereka akan pelajari seperti apa soft loan. Soft loan itu lebih murah dibanding kredit ekspor (KE)," katanya.

Kunjungan Komisi I DPR RI  adalah juga untuk bertemu dengan masyarakat Indonesia yang ada di Rusia. (Antara)

Kapal Selam Lokomotif Kemajuan Industri RI

Kapal Selam Lokomotif Kemajuan Industri RI
Oleh : Amal Nur Ngazis


Menyandang sebagai negara maritim terbesar di dunia, Indonesia memiliki tantangan berat. Dengan pasar yang besar diperlukan angkutan laut yang menghubungkan serta menyuplai kebutuhan primer dan sekunder ke seluruh wilayah Nusantara.

Problemnya jumlah angkutan laut yang ada saat ini belum mampu memenuhi kebutuhan tersebut, dan menempatkan Indonesia sebagai negara maritim besar yang mandiri.

Belum lagi, jumlah angkutan laut yang berlayar di perairan Indonesia sebagian besar merupakan angkutan laut buatan luar negeri. Belum terlihat ada kemandirian dalam visi negara maritim.

Untuk mencapai negara maritim yang mandiri dan memenuhi kebutuhan dalam negeri, industri angkatan laut atau galangan kapal harus menjadi prioritas pemerintah. Industri kapal tidak saja harus mampu memproduksi kapal, tapi kapal buatan anak bangsa harus bersaing dengan kapal produk luar negeri.

Kemampuan anak bangsa untuk membuat kapal secara mandiri sudah tidak ada masalah, hanya saja dukungan ekosistem industri angkutan laut atau galangan kapal dalam negeri masih sangat minim.

Misalnya saja, pemerintah masih belum memberikan insentif untuk impor material bagi bahan pembuat kapal. Sementara itu, untuk membuat kapal di dalam negeri, sebagian besar komponen atau material harus impor.

Salah satu pakar perkapalan Indonesia, Kaharuddin Djenod Daeng Manyambeang memprihatinkan kondisi ini. Ia berharap pemerintah mulai menyadari ketertinggalan Indonesia dalam membangun poros maritim, yang saat ini menjadi program besar pemerintahan Presiden Joko Widodo.

Secara lebih detail, Kaharuddin menantang pemerintah untuk benar-benar menjadikan industri angkutan laut atau galangan kapal menjadi industri prioritas bagi pemerintah. Sebab, industri angkutan laut akan memacu dan memberi dampak ganda pada industri lainnya.

Peraih Penghargaan Achmad Bakrie (PAB) XIII 2015 untuk Negeri itu bahkan menantang pemerintah agar mau membuat kapal selam secara mandiri. Tujuannya, meningkatkan kewibawaan dan harga diri sebagai bangsa maritim.

Jika bisa membuat kapal selam, Indonesia sudah memegang kemandirian industri apa pun. Kapal selam adalah lokomotif kemajuan bangsa.

Berikut wawacara VIVA.co.id dengan perintis perusahaan desain kapal pertama di Indonesia itu:

Anda menyoroti industri angkutan laut Indonesia. Bagaimana sebenarnya kondisi industri angkutan laut saat ini?

Dibandingkan tahun 2005, industri kapal kita sudah ada peningkatan. Berbeda dengan sebelumnya, sudah ada kenaikan signifikan dari sisi pemilik galangan kapalnya. Dari 200-an galangan kapal yang ada ini, dari satu sisi kebutuhan galangan kapal untuk prepare dan maintenance sangat tinggi. Sementara, order penuh. Pembangunan kapal baru ini yang banyak dialami. Nggak sampai belasan dari 200-an galangan kapal tersebut.

Kendalanya?

Sampai saat ini, untuk bersaing dengan kapal luar negeri, kendalanya tidak ada perlindungan dalam negeri terkait kebijakan pajak. Ini sudah umum dan sering kami suarakan sampai sekarang belum ada solusi. Akhirnya, perusahaan pelayaran lebih pilih beli kapal dari luar negeri, karena bebas bea masuk dan pajak, dibanding bangun kapal baru dalam negeri.

Beli material baja kena pajak, kena bea masuk. Akhirnya, harga kapal 15 persen lebih mahal dari kapal luar, itu komponen saja lho. Kalau kapal jadi, itu bebas pajak dan bea masuk.

Bagaimana agar kemampuan industri kapal Indonesia bisa selevel dengan di luar negeri?

Dari sisi infrastruktur dan sumber daya manusia (SDM) kita tidak kalah untuk hasilkan produk kapal, baik itu dari sisi teknologinya, efektivitasnya. Itu bahkan bisa lebih baik, mampu bikin kapal jadi lebih baik. Hanya kesempatan menuju ke sana, mencoba untuk meraba-raba keluar dari permasalahan ini.

Galangan kapal di Indonesia yang sudah bikin kapal sendiri berapa banyak?

Kapal produk Indonesia sudah banyak. Kebanyakan dari proyek pemerintah, owner-nya pemerintah, baik itu Kementerian Perhubungan, Pertahanan. Itu sudah cukup banyak. Tapi, pesanan swasta sangat kecil di dalam negeri.

Kapal biasa sudah ada, seperti kapal PAL Star 50, PAL carrier 50 ribu ton, tanker 30 ribu ton sudah dibuat di PT PAL. Kapal lain juga, terutama kapal generik, yang saya sebut ya, kapal tongkang, kapal angkut, ada galangan yang bikin buat pesanan dari dalam negeri.

Tapi, meskipun ada, jumlahnya baru puluhan dalam satu tahun. Kalau dibandingkan dengan potensi pasar Indonesia, itu tidak ada apa-apanya persentasenya. Sementara dari sisi pemerintah, kebanyakan kapal khusus, kapal SAR, pertahanan, dan riset.

Secara ekosistem, bagaimana kondisi industri galangan kapal Indonesia?

Secara ekosistem yang belum lengkap industri spare part, industri pendukung seperti mesin utamanya, genset, gearbox, hampir semua tidak ada yang di dalam negeri, impor semua. Kurang lebih, kalau bangun kapal di Indonesia itu 20-30 persen yang bisa dipenuhi dari material dalam negeri, selebihnya itu impor. Bisa dibayangkan impor dengan kena pajak, sedangkan persentase pajak barang impor besar.

Lantas, soal komponen dalam negeri, apa saja yang Indonesia miliki?

Baja, aluminium malah belum, itu pun masih dari luar. Produk aluminium untuk kapal berbeda dengan aluminium biasa. Baja sebagian masih impor, meski jumlahnya kecil. Notabene yang bisa dipasok untuk spare part tidak signifikan, gampangnya, furniturnya, tempat tidurnya yang bisa dipasok dari dalam negeri, itu pun dari sisi value added tidak terlalu banyak.

Meskipun kita sudah ada industri pendukung seperti industri radar sudah berkembang, alutsista juga sudah mulai merintis. Tapi, itu masih rintisan, ya tahap rintisan dari sisi jumlah belum signifikan, belum banyak. Yang patut dihargai, sudah mulai munculnya rintisan anak bangsa membangun produk untuk kemandirian.

Apa teknologi terbaik di dalam negeri yang dipakai untuk bersaing dengan kapal asing?

Kemampuan galangan kapal perlu ditingkatkan, terutama untuk mendesain.
Selama ini, galangan kapal kita yang bisa desain itu hanya PT PAL. Selebihnya, galangan kapal BUMN lainnya hanya bagian dari desain, selebihnya mereka tidak bisa. Kalau ingin bisa bersaing, minimal bangun kekuatan desain.

Dengan ini, maka seterusnya bisa bangun metode manufacturing, efisiensi, sehingga optimal. Ini setelah kemampuan kuat di desain. Selebihnya pembangunan SDM. Desain kita belum mateng. Cukup berat harus bersaing dengan luar negeri.

Dengan kondisi industri galangan kapal seperti itu, lantas kemampuan apa yang bisa ditingkatkan?

Idealnya, untuk jalankan, saat ini pemerintah itu jadi arranger semuanya, tanpa itu nonsense. Kalau diharapkan galangan kapal bisa bersaing, harus punya kemampuan desain, itu butuh investasi besar. Harus ciptakan SDM untuk menunjang kemampuan desain dan siapa yang bisa bangun galangan kapal? Ini berat.

Jadi, akhirnya fungsi pemerintah untuk atur itu hal yang mutlak, agar lebih bersaing dengan luar negeri. Bersaing di dalam negeri saja kita berat, karena tidak ada perlindungan dari pemerintah dan industri maritim. Nah, akhirnya soal galangan kapal, karena skalanya ratusan hingga ribuan kali industri lain, anggap saja dari industri elektronik dan otomotif, sehingga bicara ini tidak lepas dari pemerintah.

Apa kontribusi pemerintah sejauh ini?

Parsial, terlalu parsial, termasuk pajak yang paling dasar itu tadi. Tak ada kebijakan pajak yang menguntungkan. Fungsi pemerintah sebagai pengatur lalu lintas ekonomi dalam negeri tidak ada. Kalau ada potensi pasar, perlu kekuatan besar, kebutuhan kapal besar karena kita negara maritim. Kalau itu bisa diatur pemerintah dengan perbankan, kalau secara aktif atur semuanya, cukup pasar dalam negeri bisa hidupkan 200 galangan kapal.

Terus apa yang diharapkan?

Pertama adalah kebijakan memberikan bebas pajak dan bea masuk barang yang punya multiplier effect seperti galangan kapal. Tempatkan industri maritim sebagai industri yang proritas, agar jauh lebih menggiatkan industri maritim.

Pemerintahan Presiden Jokowi punya visi jadi poros maritim dunia. Apa kontribusi industri galangan kapal?

Pertama, perlu diperjelas visi poros maritim dunia itu bukan hanya sebagai user. Itu yang perlu diperbaiki. Kalau sebagai user, cukup beli kapal dan bangun pelabuhan yang banyak. Tapi, poros maritim dunia itu adalah seberapa besar kita bisa penuhi kebutuhan dalam negeri. Jadi, bukan hanya user, kita mandiri dan berdaulat dalam memenuhi kebutuhan dalam negeri. Perlu ada perubahan mindset dari pemerintah.

Dalam satu tahun ini, lebih banyak bangun infrastruktur, banyakin pelabuhan, dan pemenuhan kapal saja. Mudah-mudahan nanti ada kebijakan, saat ini belum ada kebijakan yang menopang industri maritim untuk penuhi kebutuhan dalam negeri.

Apakah pemerintah sudah berdialog dengan pelaku industri galangan kapal?

Sudah. Akademisi dan pelaku galangan kapal sudah bertemu dengan menko kemaritiman yang lama. Cuma, ya, sekali lagi sudah sampaikan aspirasi, menko kemaritiman lama sudah mulai paham, tapi kini balik lagi, mulai dari nol. (Karena ada reshuffle kabinet). Menko kemaritiman lama cukup intens dan aktif dengan asosiasi serta perkumpulan intelektual maritim untuk menggambar petanya, dan bagaimana merumuskan roadmap bangun poros maritim.

Menko kemaritiman paling tidak sudah kumpulkan permasalahan yang ada. Kenapa industri maritim belum banyak berbicara, dan responsnya waktu itu positif dan memang butuh waktu. Mudah-mudahan pergantian menko tidak serta merta harus hapus yang sudah dibicarakan sebelumnya.

Dalam sambutan saat meraih Penghargaan Achmad Bakrie XIII 2015 untuk Negeri, Anda menantang pemerintah bangun kapal selam 30 meter. Apa urgensinya bagi Indonesia?

Hehehe...kalau disebut menantang, ya memang nggak apa-apalah, memang sedikit ingin push pemerintah. Hampir seluruh negara maju, seperti Amerika Serikat, kemajuan teknologi bidang tertentu dimulai dari kemajuan bidang alutsista. Ini, jadi lokomotif industri lain, ini hal wajar dan Jepang, Eropa jadi lokomotif.

Kedua, dalam alutsista sendiri, kalau kita lihat banyaknya jenis alutsista, yang jadi simbol kekuatan militer suatu negara adalah kapal selam, kapal induk, dan pesawat tempur. Tiga ini yang jadi tolok ukur. Secara jumlah elemen, yang harus didesain, kapal selam itu yang tertinggi.

Tingkat kesulitannya tertinggi dari semua alutsista, sehingga itu jadi simbol. Jika suatu negara mampu bangun kapal selam, negara itu bisa bangun industri lain, jangan dianggap remeh. Kapal selam itu simbol. Masing-masing negara akan pikirkan itu.

Selain itu?

Ketiga, yang dilihat, ditakuti dari negara lain itu, bukan seberapa banyak kita beli dan apa tipe alutsistanya. Tapi, yang jadikan negara lain hormati kita adalah kemampuan buat alutsista sendiri. Kita punya sekian kapal selam, pesawat tempur, dan kapal induk, tapi kalau itu semua beli, itu hanya bisa takuti negara tetangga saja, seperti Malaysia dan mereka juga beli.

Australia, mereka sama-sama beli ke AS juga dengan F16. Tapi, mereka tahu kuncinya alutsista itu, wong kita beli dari mereka. Itu artinya, bagaimana kita bangun alutsista sendiri itu bisa naikkan harga diri dan kewibawaan negara. Bukan sekadar bangun kapal selam.

Keempat, karena kesulitan tinggi dan melibatkan bidang keahlian tertentu dalam bangun kapal selam, itu otomatis tingkatkan kemampuan galangan kapal dan kapal lainnya. Kalau kapal selam mampu secara desain, kita akan mampu bikin kapal tanker dan lainnya. Ini multiplier effect ke industri lainnya. Ada semua efeknya dengan galangan kapal dan dampak ke industri lainnya.

Negara mana saja yang sudah memiliki kemampuan seperti itu?

Jepang itu harus kita contoh. Dia beli kapal selam dari Belanda. Satu dipakai, satu dibongkar untuk ambil ilmunya, bikin sendiri. Mereka berani buat kapal kapal selam sendiri dengan fasilitas yang sederhana. Istilahnya, Jepang bikin dengan fasilitas seperti bangunan di kampung itu lho, pakai bambu-bambu, seperti rumah di kampung untuk penahan dan penyangga.

Kapal selam yang butuh presisi, mereka berani dengan fasilitas seperti itu. Ini keberanian dan rasa percaya diri, makanya saya sengaja sentil itu. Yang kita butuh adalah keberanian dan rasa percaya diri untuk bangun kemandirian alutsista. Itu jadi lokomotif kemajuan industri seluruhnya.

Anda lihat, Samsung dan Hyundai di Korea Selatan dan perusahaan Jepang, misalnya Mitsubishi, itu awalnya dari industri maritim. Itu contoh dari Jepang. Mitsubishi dan lainnya, Yasuda, itu dari industri maritim. Baru derivatifnya industri otomotif, elektronik, dan lainnya.

Ini lokomotif, kalau ini bisa, galangan kapal efeknya. Dan penguatan di industri turunannya bisa mobil, elektronik, dan lainnya. Makanya, dulu Pak BJ Habibie itu bangun PT DI Nurtanio, PT PAL, dan lainnya, sayang kita dijegal di tengah jalan. Efeknya dan spektrumnya luas.

Apa harapan ke pemerintah agar industri ini jadi industri prioritas?
Harapan saya, pemerintah mau melihat sejarah negara maju yang ada. Mulai dari Inggris dengan Eropa, AS, Jepang, China, Korea Selatan, dan Vienam. Kemarin, pertumbuhan ekonomi Vietnam melebihi RI. Pemerintah bisa belajar bangun prioritas industri yang ada. Tidak parsial, tapi pemerintah fokus industri prioritas, itu otomatis bisa kembangkan industri lain. Belajar dan melihat negara maju bikin industri prioritas.

Apakah industri galangan kapal ini sudah menjadi industri prioritas?

Harusnya ini jadi prioritas. Waktu saya tanya ke Kementerian Perindustrian, jawabannya sudah masuk dalam industri prioritas. Tapi, di sana ada puluhan industri. Bayangkan, galangan kapal disamakan industri minyak atsiri, itu disamakan. Itu ada puluhan dan sama. Itu namanya bukan prioritas.

Kalau ada puluhan, yang berikan prioritas yang mana, itu yang perlu perbaikan. Jelas kita negara maritim, dan tidak harus pakai jalan negara lain. Kita sadari, identitas kita adalah maritim, makanya industri maritim harus jadi prioritasnya.