Google Adsense

Thursday, November 12, 2015

Mengenal Firman, Anak Suku Rimba Jambi Pertama di yang Masuk TNI

Tidak ada yang menyangka jika remaja berperawakan tegap dan rambut cepak itu merupakan calon prajurit TNI Angkatan Darat yang berasal dari Suku Rimba atau Suku Anak Dalam di Provinsi Jambi.

Remaja berusia 18 tahun dengan tinggi badan 171 sentimeter itu bernama M Firman Haryanto, anak dari Temenggung Depati Jaring, yang merupakan salah seorang pemimpin kelompok Suku Anak Dalam di Kabupaten Muarojambi.


Mengenal Firman, Anak Suku Rimba Jambi Pertama di yang Masuk TNI

Pada peringatan HUT ke-59 Korem 042/Garuda Putih di Jambi, seperti dikutip Antara, Firman menjadi salah satu tamu kehormatan. Pasalnya, ia merupakan remaja pertama Suku Anak Dalam yang dinyatakan lulus sebagai calon tamtama TNI AD.

Mengenakan baju kemeja putih dengan celana hitam dan tas ransel, Firman duduk semeja bersama sejumlah perwira tinggi jajaran Korem 042 Garuda Putih sembari mendengarkan lantunan musik perayaan HUT Korem tersebut di balai prajurit.


Saat itu, Firman seperti selebriti karena sejumlah perwira dan bintara TNI ingin berfoto bersamanya.

Bahkan, Firman juga menerima kue perayaan HUT Korem langsung dari Danrem 042/Garuda Putih Kol Inf Makmur.

Tamatan SMP

Firman tercatat menjadi salah satu dari 300 pemuda se-Sumatera bagian selatan (Sumbagsel) yang dinyatakan lulus tes masuk tamtama TNI AD. Mereka akan mengikuti pendidikan kemiliteran yang diselenggarakan di Kabupaten Lahat, Provinsi Sumatera Selatan.

Remaja berkulit sawo matang itu lahir di hutan pedalaman Jambi pada 25 April 1997. Ia hanya mampu menyelesaikan pendidikan sekolah menengah pertama di SMPN 36 Sungai Bahar, Kabupaten Muaro Jambi.

Firman menjelaskan, ia bersama dengan orangtua dan sanak keluarganya telah beberapa tahun lalu meninggalkan hutan. Mereka kemudian pindah ke permukiman transmigrasi di Desa Bukit Makmur, Kecamatan Sungai Bahar.

Meski hanya tamatan SMP, tetapi Firman memiliki cita-cita ingin menjadi prajurit elite TNI AD, yakni Kopassus.

"Saya akan terus belajar karena menjadi prajurit TNI memang menjadi cita-cita saya ketika keluar dari hutan," kata dia.

Enam tahap seleksi harus diikutinya mulai dari tes administrasi hingga tes kesehatan.

Akhirnya, Minggu (8/11/2015), dia dinyatakan lulus tes dan menjadi anak Suku Rimba pertama di Jambi yang masuk TNI.

Anak sulung dari tiga bersaudara ini mengatakan, pada saat tes ada empat orang Suku Rimba yang ikut mendaftar. Namun, hanya dirinya yang lulus.

"Rencananya, tanggal 13 November besok ini langsung berangkat pendidikan," kata Firman.

Disinggung soal tes yang telah dijalani, Firman mengaku, rangkaian tes sangat berat. Namun, dia maklum dengan tes tersebut karena merupakan syarat utama masuk TNI.

Firman menambahkan, selama tes, dirinya diperlakukan sama oleh pihak panitia. Begitu pun teman-teman seperjuangannya.

Saat tes, dia tak mengalami kesulitan yang berarti. Hanya saja, pada saat tes psikologi, dirinya mengaku agak kewalahan.

Firman juga menyebut tidak mengeluarkan biaya untuk menjalani serangkaian tes masuk TNI tersebut.

"Biaya paling untuk makan. Kalau biaya tes dan formulir tidak ada," ujarnya.

Dia juga mempersiapkan diri secara matang ketika akan ikut seleksi. Yang paling utama disiapkannya adalah fisik. Ia terus berolahraga, seperti lari, push up, dan renang.

Ketika disinggung mengenai risiko menjadi seorang prajurit pembela negara, Firman mengaku tak takut mati. Bahkan, dia mengatakan, semua orang pasti akan mati, bagaimanapun caranya.

Orangtuanya yang bertani sawit dan keluarga lainnya, kata Firman, mengadakan syukuran atas kelulusannya menjadi calon anggota TNI.

Diprioritaskan

Danrem 042/Garuda Putih Kolonel Inf Makmur mengatakan, Suku Anak Dalam selama ini hanya dieksploitasi tanpa upaya pemberdayaan. Karena itu, Suku Anak Dalam yang ingin menjadi TNI akan diprioritaskan.

"Untuk masuk TNI memang ada kriterianya, seperti tes kesehatan. Tapi, dalam hal ini kita sendiri mengingat bahwa Suku Anak Dalam selama ini dieksploitasi saja dan dan sekarang kita ingin membangun mereka melalui rekrutmen TNI, ternyata mereka lebih mampu," kata Makmur.

Makmur mengatakan, merekrut Suku Anak Dalam memang diprioritaskan. Namun, setelah mengikuti rangkaian tes, ternyata Firman memenuhi syarat dan hasil tesnya pun bagus.

"Dalam tes tidak ada perlakuan istimewa, tapi memang ada prioritas. Artinya, kurang sedikit kita angkat, tetapi ini betul-betul sesuai dengan standar," katanya.

Danrem mengungkapkan, selama ini baru satu Suku Anak Dalam di Jambi yang lulus tes TNI dan akan mengikuti pelatihan di Kabupaten Lahat.

"Baru satu orang anak SAD yang lulus, tapi ada lima orang lagi yang kita persiapkan untuk mengikuti tes ke depan. Jadi, sebelum tes, kita persiapkan dulu mereka, terutama kesehatan mereka," kata Makmur.

Sebelumnya, Presiden Joko Widodo sempat mengunjungi Suku Anak Dalam di Kecamatan Air Hitam, Kabupaten Sarolangun, Jambi.

Presiden saat itu berjanji akan memberikan perhatian serius terhadap Suku Anak Dalam karena mereka merupakan bagian dari rakyat Indonesia.

"Semuanya itu rakyat kita. Semuanya sama, tidak hanya kamu yang di Jakarta," kata Presiden kepada wartawan saat itu.

Suku Anak Dalam tinggal berpindah-pindah sehingga Presiden manawarkan mereka untuk tinggal menetap.

Mereka, kata Presiden, mau menetap dengan syarat rumahnya memiliki jarak yang agak jauh dan memiliki lahan.

"Ini yang perlu dikelola lagi sehingga mereka mempunyai rumah tetap, tidak nomaden. Sumber pendapatan mereka harus dipikirkan, pendidikan juga, harus ada yang mengajar anak-anak Suku Anak Dalam," kata Presiden. (Kompas)

TNI AL Tangkap Kapal Asing Pencuri Ikan di Samudera Pasifik

Tentara Nasional Indonesia (TNI) Angkatan Laut menangkap tiga kapal pencuri ikan asal Filipina di Samudera Pasifik, Minggu (8/11/2015). Ketiga kapal ini ditangkap oleh Kapal KRI Hiu/BKO GKTI.


"Kri Hiu/BKO GKTI telah berhasil menangkap 3 kapal ikan asing Filipina (1 kapal pengangkut dan 2 kapal penangkap) di Samudera Pasifik 05 55 65 U - 127 09 00 T," kata Kadispenal Laksamana Pertama M Zainuddin, Rabu (11/11/2015) pagi.

Zainuddin mengatakan, tiga kapal yang ditangkap tersebut masing-masing Kapal Trinity S-850 yang berisi enam anak buah kapal (ABK) asal Filipina, F/B LBS 40 yang berisi tiga ABK asal Filipina, dan F/B CA Jhuan Jhuan berisi 23 ABK dengan kemampuan angkut 30 GT.


"Khusus Jhun-Jhun, adalah jenis kapal induk pumpboat mengangkut 18 Fighter (18 Ketinting) muatan nihil, 30 GT, ABK 23 orang Filipina," kata dia.

Alumni AAL tahun 1987 ini menuturkan, ketiga kapal tersebut milik Trinity Home Industry Davao Philipina dengan atas nama pemilik Alexis Lumbatan.

Para awak kapal diduga menangkap ikan di zona ekonomi eksklusif Indonesia tanpa izin pemerintah RI.

"Ketiga KIA tersebut di kawal ke Lanal Tahuna untuk proses lanjut penyelidikan," tandasnya.  (Kompas)

Pasukan reaksi cepat Komando Armabar Lumpuhkan Perompak Selat Malaka

Pasukan reaksi cepat Komando Armabar TNI AL atau WQFR menangkap lima anggota kawanan Waskim, sindikat besar perompak yang biasa beraksi di Selat Malaka.

Kelima tersangka ini ditangkap di kaki Gunung Salak, Jawa Barat, Rabu (11/11/2015) sekitar pukul 09.15 WIB. “Satu dari lima pelaku terpaksa dilumpuhkan dengan timah panas karena mencoba melawan petugas,” kata Kadispenal Laksma M Zainudin kepada Tribunnews, beberapa saat lalu.


Salah satu anggota perompak yang berhasil ditangkap unit khusus TNI AL. Foto: Dispenal.

Zainudin menambahkan, dalam operasi ini ada satu orang yang berhasil meloloskan diri masuk ke hutan Gunung Salak. “Kini dalam pengejaran petugas,” tambahnya. Sebelumnya, TNI AL juga sudah menangkap Gayor, anggota kelompok Waskim lainnya di Batam.


Kelompok Waskim adalah sindikat spesialis kejahatan pengambilan sparepart di atas kapal dengan menggunakan kekerasan. Lokasi operasi mereka berpindah-pindah, tergantung situasi rapat tidaknya keamanan. “Lokasi operasi di perairan Selat Malaka, Perairan Dumai dan Perairan Teluk Jakarta,” ujar Laksma TNI Zainudin.

Selama ini, lanjut Kadispenal, ada dua sindikat besar yang beraksi di Selat Malaka, yaitu Sindikat M. Zakir dan Sindikat Waskim. “Jaringan Waskim sudah berhasil dibongkar oleh Tim WFQR, mulai dari pelaku-pelaku yang selalu beraksi di kapal, gudang tempat penyimpanan barang hasil kejahatan, serta penadah barang yang berada di wilayah Jakarta,” ujar perwira bintang satu ini. (JKGR)

TNI AD dipersiapkan Untuk Antisipasi Konflik Laut China Selatan

Komando Resor Militer (Korem) 031 Wirabima Riau bersiap menghadapi segala kemungkinan buruk konflik Laut China Selatan. Ribuan pasukan pemukul reaksi cepat (PPRC) sudah disiapkan dan dilatih kemampuan tempurnya.

"Sudah ada dibentuk PPRC. Pasukan ini masih berlatih hingga sekarang, semuanya siap untuk diterjunkan untuk menghadapi segala kemungkinan buruk," kata Komandan Korem 031 Wirabima Brigjen TNI Nurendi, Selasa (10/11/2015).


TNI AD dipersiapkan Untuk Antisipasi Konflik Laut China Selatan

Menurut Nurendi, TNI di Riau siap ambil bagian jika sewaktu-waktu konflik Laut China Selatan yang tengah memanas berujung pada kontak fisik atau perang antarnegara di wilayah tersebut.

Ambil bagian di sini, tegas Nurendi, bukan berarti Indonesia terlibat atau memihak salah satu blok antara Amerika Serikat ataupun China.


"Kita ambil ambil bagian dalam artian siap mempertahan NKRI. Ada matra pasukan yang siap terjun dari Riau jika sewaktu-waktu terjadi perang," kata dia.

Sebelumnya, Komandan Lapangan Udara Roesmin Nurjadin Marsma Henri Alfiandi juga sudah menyiagakan pesawat tempur di Pekanbaru. Di samping itu, juga dilakukan patroli perbatasan yang diberi nama dengan Baruna Nusantara.

Menurutnya, Indonesia perlu hadir dalam konflik Laut China Selatan dalam artian mempertahankan Kepulauan Natuna yang merupakan pulau terluar Indonesia.

"Hadir di sini dalam rangka mempertahankan NKRI dari segala ancaman teritorial," tukas Henri, Senin 9 November lalu. (Liputan6)

Pesawat perintis N219 made in Bandung siap mengudara

Setelah mati suri selama 20 tahun lama, PT Dirgantara Indonesia (DI) bersama Lapan memperlihatkan kembali pesawat lokal 'made in Bandung' yakni N219. Kali terakhir PT DI membuat pesawat produksi sendiri yakni N250 yang diperkenalkan pada Agustus 1995.

Pesawat perintis N219 made in Bandung siap mengudara

N219 ini diperlihatkan pada publik di Hanggar Pesawat N219 PT DI, Kota Bandung, Kamis (12/11). Acara roll out ini dihadiri langsung Dirut PT DI Budi Santoso beserta jajaran dan anak perusahaan.

Menurut Budi, kegiatan roll out perancangan dan pembangunan struktur pesawat N219 ini menandakan bahwa pesawat angkut ringan ini selesai dirancang dan akan diresmikan Presiden Jokow Widodo tahun 2016.


"Istilah roll out yang selama ini digunakan untuk menandai keluarnya pesawat dari hanggar dan nantinya akan diresmikan oleh Presiden Joko Widodo untuk diperkenalkan pada publik," kata Budi Santoso.

Pesawat N219 ini merupakan pesawat komuter CASR 23 berkapasitas 19 penumpang dengan dua mesin turboprop. Ide dan desain dari pesawat ini dikembangkan PT DI dan Lapan sejak 2013.

"Barulah Mei 2015 kita langsung produksi segala macamnya," terangnya. Sampai pada akhirnya N219 ini rampung dikerjakan pada November 2015. "Ini memang cepat pengerjaannya."

Dia berharap kehadiran pesawat N219 ini mampu membangkitkan kedirgantaraan Tanah Air setelah N250 mampu mendunia. Dia juga berucap pesawat N219 mampu menjawab kebutuhan melayani operasional bandara perintis dan optimis menguasai pasar pesawat terbang di kelasnya.

"Sehingga ke depannya peran serta pemerintah dan pihak terkait dapat membantu pengembangan pesawat N219 hingga siap diterbangkan pertama kali," ucapnya. (Merdeka)

Monday, November 9, 2015

Jet Tempur Sukhoi dari Makassar Paksa Pesawat Dipiloti Tentara Amerika Mendarat



MAKASSAR, Dua pesawat Sukhoi dari Skuadron 11 Pangkalan Angkatan Udara Hasanuddin, Makassar, di Sulawesi Selatan paksa mendarat sebuah pesawat jenis piper SR-70 (pesawat ringan) Cessna di Bandar Udara Juwata Tarakan, Kalimantan Utara, Senin (9/11/2015).

Pesawat mesin tunggal dengan nomor lambung N 96706 masuk wilayah Indonesia tanpa izin.

Sang pilot yang seorang perwira menengah yang tengah cuti dari tentara US Navy, James Patrick Murphy, menunjukkan kepatuhan ketika dipaksa mendarat.

"Radar 225 di Tarakan Mabes TNI menangkap sinyal pesawat lewat tanpa identitas (kode), maka dianggap pelanggaran wilayah udara suatu negara. Tak lama, langsung dilakukan pengejaran," kata Kepala Penerangan Kodam VI Mulawarman Kolonel Inf Andi Gunawan.

Cessna yang dipiloti Murphy terbang dari Hawai ke Filipina untuk menuju Singapura.

Pesawat itu tertangkap radar Indonesia saat melintas perbatasan Ambalat di Kaltara.

Informasi itu diteruskan ke Kohanudnas dan berlanjut ke TNI AU.

Mereka segera mengerahkan dua Sukhoi dengan senjata lengkap untuk mengejar Cessna.

Dua pilot Sukhoi, Mayor Pnb Anton Palagguna dan Mayor Pnb Baskoro, mengejar Cessna dan memaksa pesawat mendarat di Juwata sekitar pukul 14.30 waktu setempat.

"Pilot pesawat sipil ini menuruti pilot Sukhoi dan turun di Juwata," katanya.

Sesaat setelah turun dari pesawat, Murphy segera menjalani pemeriksaan TNI AU.

"Kami langsung menahan, menginterogasi, dan investigasi secara tertutup pilot pesawat asing ini," katanya.

Murphy sementara ditahan di Makolanud Tarakan. Sebagaimana aturan main penerbangan, pesawat sipil yang masuk ke wilayah Indonesia mesti memiliki izin flight clearance (FC) dari Mabes TNI AU, flight approv atau MOT dari Kementerian Perhubungan, hingga kunjungan warga asing atau ministry of foreign affairs (MFA) ke luar negeri.

Pemeriksaan seputar izin masih terus berlangsung.
Belum diketahui sebenarnya mengenai tujuan Murphy melintas.

"Tinggal menunggu hasil penyelidikan dari pihak pangkalan TNI AU di Tarakan dan koordinasi tentang keputusan dari Kementerian Luar Negeri RI, apakah izin terbang yang bersangkutan tersebut diubah atau tidak," kata Andi.

Sunday, November 8, 2015

INDONESIA TELAH PUTUSKAN PEMBELIAN SU-35 FLANKER BESERTA TOT



Indonesia tertarik tidak hanya membeli Su-35, tetapi juga membangun pusat layanan teknis di wilayahnya dan memperoleh transfer teknologi perakitan pesawat.

"Indonesia telah mengambil keputusan mengenai pembelian pesawat tempur Rusia Su-35, sekarang dibicarakan transfer teknologi perakitan pesawat", ucap kepada agensi berita RIA Novosti Kepala Departemen Kerja Sama Internasional Perusahaan “Rostech” Viktor Kladov di pameran aviasi internasional Dubai Airshow-2015.

"Indonesia telah mengambil keputusan, apa langkah berikutnya? Tunggu saja", kata Kladov, menjawab pertanyaan wartawan mengenai proses negosiasi pemasokan Su-35 ke Indonesia (08/11/2015).

Beliau menambahkan bahwa Indonesia tertarik tidak hanya membeli Su-35, tetapi juga membangun pusat layanan teknis di wilayahnya dan memperoleh transfer teknologi perakitan pesawat.
"Negosiasi menjadi lebih majemuk karena saat ini dibicarakan bukan hanya pemasokan Su-35, tetapi juga transfer teknologi", tutur Kladov.

Pada bulan September Menteri Pertahanan Indonesia Ryamizard Ryacudu mengumumkan niatnya untuk membeli skuadron pesawat tempur Su-35 untuk menggantikan pesawat tempur F-5 Tiger II milik Amerika yang usianya sudah mencapai empat dekade.

PT DI MENUJU FINALISASI KONSTRUKSI WORKSHARE IF-X




Airframer Indonesia PT Dirgantara (Persero) masih bekerja menuju finalisasi workshare yang tepat untuk pesawat tempur siluman generasi 4,5 multirole IF-X. Airframer akan bekerja dengan Pertahanan Administrasi Program Akuisisi Korea Selatan (Dapa) untuk memberikan pesawat tempur IF-X bagi Angkatan Udara Indonesia. IF-X adalah nama yang diberikan untuk versi Indonesia dari project KF-X korea, pesawat siluman generasi 4,5 multirole. 

VP Pengembangan Bisnis & Pemasaran Persero PT DI, Ade Yuyu Wahyuana mengatakan kepada Daily News, "Diskusi di Jakarta sebelumnya senantiasa untuk konstruksi dan perjanjian workshare sebesar 30% belum ditandatangani dengan Dapa. " 

"Kami memiliki dua pekerjaan besar, paket pekerjaan rekayasa dan manufaktur penting pesawat untuk KF-X.", Ade mengatakan, "Kami tidak berniat untuk menjadi produsen tempur. tapi kami akan mewujudkan teknologi yang kami peroleh dari program ini untuk program pesawat komersial kami. Prioritas pertama bagi perusahaan adalah untuk melihat bagaimana yang terbaik dapat memenuhi persyaratan operasional Angkatan Udara Indonesia untuk IF-X.

"Akan ada beberapa perbedaan antara KF-X dengan IF-X dan kami mencari cara untuk memenuhi persyaratan ini," kata Ade. Perubahan penting yang direncanakan untuk IF-X dibandingkan dengan KF-X adalah; Drag Chute for Landing, Finalising of Refuelling Probe Configuration (selang dan parasut pesawat ) serta pengangkutan dan penurunan tangki eksternal untuk meningkatkan jangkauan.
KF-X dan IF-X adalah pesawat tempur siluman generasi 4,5 yang menampilkan dua konfigurasi kokpit tunggal dan tandem pada tempat duduk .

 Ini akan menampilkan desain aerodinamis sangat canggih dan memiliki fitur siluman seperti sela terintegrasi pada segi pesawat, asupan insertion path dan sayap Diamond. KF-X dan IF-X akan dilengkapi juga dengan radar AESA dan Avionik.