Google Adsense

Wednesday, October 7, 2015

Deretan Jet Tempur Paling Canggih yang dimiliki Indonesia


TNI Baru saja melaksanakan upacara peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) TNI ke-70 yang puncaknya dilakukan di Banten. Tidak tanggung-tanggung, sekitar 155 Pesawat TNI AU diterjunkan dalam upacara tersebut.

Deretan Jet Tempur Paling Canggih yang dimiliki Indonesia

Lebih lanjut, apakah Anda pernah bertanya-tanya pesawat tempur paling canggih apa saja yang sudah dimiliki Indonesia hingga tahun 2015 ini? Ini dia jawabannya!



1. T-50i Golden Eagle

Pesawat buatan Korea Aerospace Industry (KAI) ini sangat mirip dengan F-16 Fighting Falcon. Pesawat yang dibeli tahun 2014 ini memang kerap dipakai sebagai pesawat latih sebelum menggunakan F-16.

Pesawat ini mampu terbang dengan kecepatan 1.600 km per jam. Sosoknya terlihat ramping dengan spesifikasi panjang 43 kaki, lebar sayap 31 dan tinggi 16 kaki. T-50i juga mampu mengusung persenjataan seberat 10.500 pound. Termasuk gatling gun tiga laras yang bisa menyemburkan 2.000 peluru per menit serta aneka rudal dan roket.


T-50i Golden Eagle TNI AU

Kecanggihan T-50i semakin lengkap dengan keberadaan sistem avionik digital dan Radar Warning Recievers (RWR). Dua teknologi itu memungkinkan T-50i untuk mendeteksi kedatangan musuh dari segala arah.

T-50i versi pesawat latih dicat biru terang dengan strip berwarna kuning. Sementara versi tempur, dicat hijau dan abu-abu seperti F-16 block 52 ID yang didapat dari AS.


2. F-16 Block 52

Indonesia tahun ini akhirnya mengupgrade lini F-16 Block 15 dengan F-16 Block 52ID. Meski dari segi luar nampak sama, namun F-16 Block 52 dapat membawa senjata lebih banyak, mempunyaidaya dorong lebih besar, dan terbang lebih jauh.


F-16 Block 52 TNI AU

Soal teknologi navigasi, F-16 Block 52 menggunakan navigation dan targeting pod untuk operasi malam hari serta misi Supression Of Enemy Air Defence (SEAD). Tidak ketinggalan, terdapat Improved Data Modem memungkinkan penerbang melakukan komunikasi tanpa suara hanya menggunakan komunikasi data dengan pesawat lain dan radar darat, radar laut atau radar terbang.

Sistem persenjataan pesawat ini juga cukup lengkap. F-16 Block 52 memiliki rudal jarak pendek AIM-9 Sidewinder P-4/L/M dan IRIS-T (NATO) serta rudal jarak sedang AIM-120 AMRAAM-C. Pesawat ini juga dibekali dengan persenjataan kanon 20 mm, bomb standar MK 81/82/83/84, Laser Guided Bomb, JDAM (GPS Bomb), rudal AGM-65 Maverick, rudal AGM-84 Harpoon (anti kapal), rudal AGM-88 HARM (anti radar).


3. Sukhoi Su-30MK/MK2

Versi terbaru pesawat buatan Rusia yang dikembangkan sejak tahun 1996 ini memiliki daya jelajah hingga 5400 kilometer. Beragam teknologi hebat juga menghiasinya, seperti Instrumen avionik di kokpit berupa layar kaca MLD (Multifunction Liquid-crystal Display) dan HUD (Head Up Display).


Sukhoi Su-30MK TNI AU

Sistem navigasi Su-30MK/MK2 juga sudah terintegrasi dengan sistem satelit Glonass dan Navstar demikian juga dengan RWR (Radar Warning Receiver) yang berfungsi mengendalikan tembakan rudal anti radiasi KH-31P. Penggunaan IRST (Infrared Search and Track Device) yang mampu menembakkan rudal laser beam riding sudah tersedia di Sukhoi Su-27 SKM. Su-30 MK2 mampu mendeteksi, mengunci dan menyerang sasaran 360 derajat dengan segala cuaca.

Pesawat ini juga bisa membawa sampai 12 jenis senjata mulai dari rudal udara ke udara, rudal udara ke darat, roket dan bom nuklir.


4. Sukhoi Su-35


September lalu, Indonesia memutuskan untuk membeli satu skuadron jet tempur Sukhoi Su-35 yang berisi 16 pesawat. Pesawat buatan Rusia yang merupakan pengembangan Sukhoi Su-27 ini bahkan diklaim sebagai yang tercanggih di dunia saat ini. Namun, baru tahun depan pesawat ini baru dikirimkan ke tanah air.

Pesawat Su-35 disebut sebagai pesawat siluman, karena dapat menghilang di radar saat melakukan pengubahan kecepatan secara acak untuk mengacau radar musuh. Bahkan, pesawat ini mempunyai teknologi jamming untuk mengurangi kemampuan radar musuh. Perangkat elektronik aviasi yang ada di pesawat ini adalah Radar IRBIS dan radar pendeteksi sasaran - 400 kilometer.


Sukhoi Su-35 TNI AU

Yang lebih mencengangkan, Su-35 dikatakan bisa menandingi F-22 Raptor yang notabene pesawat jet siluman generasi ke-5 milik Amerika.

Su-35 sendiri memiliki kecepatan setara dengan 1,5 Mach atau dua kali kecepatan suara. Berdasarkan spesifikasi teknis dari Sukhoi, Su-35 mampu menjangkau 3600 kilometer tanpa tangki bahan bakar tambahan.

Di sektor persenjataan, Su-35 bisa membawa senapan Gryazev-Shipunov GSH-30-1 30mm, dan berbagai macam jenis misil seperti bom cerdas (hingga aliber 1500kg), misil anti kapal, sampai misil air-to-air (hingga jarak 200 km). (Merdeka)

Indonesia Kekurangan Pasukan Cadangan

Kementerian Pertahanan menyatakan Indonesia membutuhkan pasukan cadangan yang akan membantu militer untuk menjaga pertahanan nasional dan keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

Indonesia Kekurangan Pasukan Cadangan

"Pasukan cadangan tersebut bukan wajib militer yang diberlakukan negara dalam kondisi damai, namun menampung kesadaran masyarakat yang selama ini aktif dalam bela negara," kata Dirkomcad Brigjen TNI Iskandar M Munir di sela-sela konsultasi publik terkait Rancangan Undang-Undang (RUU) Sumber Daya Nasional untuk Pertahanan Negara di ruang sidang Balai Kota Malang, Selasa (6/10/2015).

Selain itu, lanjutnya, yang mendasari kebutuhan pasukan cadangan tersebut, karena jumlah personel TNI di Tanah Air kurang. Jumlah TNI yang tidak sebanding dengan jumlah warga membuat Indonesia menjadi negara yang rawan dan dianggap lemah. Sebab, sampai saat ini Indonesia masih belum memiliki kekuatan besar dalam pertahanan dan keamanan negara.


Sementara itu intervensi dari negara luar sangat mengganggu, sehingga dibutuhkan pasukan cadangan. "Semoga dengan adanya kegiatan konsultasi publik ini, seluruh warga Indonesia mampu menggunakan hak dan kewajiban dalam membela negaranya dengan baik," ujarnya.

Ia mengatakan RUU tersebut jika sudah disahkan menjadi UU, keberadaannya sangat penting karena berkaitan dengan model pertahanan nasional di tengah gangguan negara asing atas kedaulatan Indonesia. Aturan itu nantinya bakal menetapkan sumber nasional pertahanan, termasuk tenaga komponen cadangan yang akan membantu militer.

Dalam RUU yang sedang digodok di DPR RI itu disebutkan pria berusia minimal 18 tahun bisa mendaftarkan diri sebagai tenaga cadangan dan akan dilatih militer selama dua bulan. "Setelah itu akan dilepaskan ke masyarakat," ucapnya.

Konsultasi publik tersebut dihadiri sekitar 100 peserta yang terdiri dari Organisasi Masyarakat (Ormas, satuan kerja perangkat daerah (SKPD), Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya (FKUB), Kepolisian, TNI, PKK dan Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM).

Sementara itu, Wali Kota Malang Moch Anton dalam sambutannya yang dibacakan Wakil Wali Kota Malang Sutiaji mengatakan pertahanan negara menjadi hak dan kewajiban semua warga negara. Untuk membangun ketahanan yang melingkupi aspek politik, ekonomi, sosial dan budaya, sinergitas antara eksekutif, legislatif, TNI, Polri, akademisi, tokoh agama, dan tokoh masyarakat menjadi salah satu faktor penting bagi terbangunnya ketahanan wilayah maupun ketahanan nasional.

Menurut dia, pertahanan negara harus memperhatikan dan mengantisipasi hal-hal yang mampu melemahkan bangsa, seperti perkembangan teknologi informasi yang menghadirkan media sosial yang saat ini menjadi sarana mengeluarkan pernyataan saling menyalahkan, saling menghujat dan tidak jarang mengabaikan etika dalam bertutur bahasa.

"Saya berharap kegiatan ini Kota Malang mampu menyumbangkan beberapa pemikiran strategis serta konstruktif bagi tersusunnya RUU ini, sehingga dapat memperkokoh kekuatan pertahanan negara Indonesia serta seluruh warga negara kembali kepada budaya nusantara yang ber-adi luhung," kata Anton. (Kompas)

Rusia Bangga Lihat Kemampuan Pilot Pesawat Tempur TNI

Rusia Bangga Lihat Kemampuan Pilot Pesawat Tempur TNI

Duta Besar Federasi Rusia untuk Indonesia Mikhail Y Galuzin mengaku kagum dengan kemampuan pilot TNI Angkatan Udara saat menerbangkan jet tempur Su-27 dan Su-30 pada demonstrasi HUT ke-70 TNI, Senin (5/10/2015).

"Saya sangat bangga melihat kehebatan performa para pilot saat melakukan teknik pengeboman yang sangat baik dengan jet tempur itu," ujar Mikhail saat ditemui dalam konferensi pers di Jakarta, Senin.


Rusia Bangga Lihat Kemampuan Pilot Pesawat Tempur TNI

Selain kagum dengan penampilan pilot jet tempur buatan Sukhoi (Rusia) tersebut, ia juga terkesan dengan hadirnya tank amfibi BMP-3F dalam acara demonstrasi yang berlangsung di Pantai Indah Kiat, Cilegon, Banten, tersebut.

Menurut dia, hubungan diplomatis kedua negara yang terjalin dengan baik bisa terlihat melalui hal tersebut. Baik Indonesia maupun Rusia, ucapnya, sama-sama menjadi pihak yang diuntungkan.


Sebelumnya, TNI melakukan unjuk kekuatan tiga matra dalam memperingati hari ulang tahun (HUT) ke-70 di Dermaga Indah Kiat, Cilegon, Banten, 5 Oktober 2015, dengan mengerahkan pasukan, kendaraan tempur, pesawat tempur, dan kapal perang.

Dua pesawat tempur milik TNI Angkatan Udara, Sukhoi 27 dan Sukhoi 30, melakukan pertempuran udara jarak dekat atau dogfight dalam demonstrasi udara itu.

Dalam skenario demonstrasi, dua pesawat tempur buatan Rusia itu melakukan pertempuran udara dengan pesawat musuh (pesawat F-16).

Para penerbang jet tempur Sukhoi dapat mengambil alih kendali pertempuran yang akhirnya pesawat musuh berbalik terancam setelah pesawat Sukhoi melakukan manuver "High G Barrel", berputar ke atas dengan gaya G yang besar berpindah cepat ke belakang musuh.

Upacara peringatan HUT ke-70 TNI yang dipimpin oleh Presiden Joko Widodo itu juga menampilkan demo tempur laut berbagai aksi peperangan, penembakan, serbuan tank, terjun tempur, serta sailing pass dengan formasi tempur. (Kompas)

Lockheed Martin Rayu RI Untuk Beli Jet Tempur F-16 Seri Terbaru

Perusahaan industri pertahanan Amerika Serikat, Lockheed Martin (LM) menawarkan jenis pesawat tempur F-16 terbaru. F-16 Viper ditawarkan untuk memperkuat jajaran TNI AU.

Untuk memperkuat jajaran pertahanan udara Indonesia, LM datang menawarkan varian F-16 termutahir mereka. Yakni F-16 Viper yang memiliki keunggulan pada radarnya.


Lockheed Martin Rayu RI Untuk Beli Jet Tempur F-16 Seri Terbaru

"Kami menawarkan kemampuan baru Scalable Agile Beam Radar (SABR)," ujar Director Business Development F-16 Lockheed Martin Randy Howard dalam temu media di Ballroom Grand Hyatt, Jakpus, Rabu (7/9/2015).

Kelebihan Viper juga ada pada peningkatan mission computer pesawat, vehicle system, struktur pesawat, kokpit dan sistem peperangan elektronik (electronic warfare system) di banding blok F-16 sebelumnya. F-16V ini disebut sebagai generasi selanjutnya dari F-16 yang memanfaatkan infrastruktur berkesinambungan di dunia.


LM sendiri menyatakan, Viper merupakan konfigurasi generasi terbaru F-16 yang dapat memberikan peningkatan kemampuan siginifikan pada pesawat tempur multiperan yang paling terjangkau dan efektif di dunia ini. Termasuk konfigurasi avionik.

"Jika Indonesia sepakat (membeli Viper), maka Indonesia adalah negara pertama yang memiliki teknologi paling mutakhir F-16," kata Randy.

Radar yang menjadi jawara pada Viper adalah radar AESA (active electronically scanned array) yang dapat mempertahankan lebih dari 20 target musuh. Radar ini setipe dengan radar yang digunakan di pesawar siluman F-35 hanya saja beda versi. Jenis radar Viper sedikit lebih canggih dan memiliki kemampuan untuk membidik 3 sasaran baik di darat, udara, dan laut.

"Keuntungan yang didapat Indonesia jika memiliki pesawat kami ini adalah biaya operasional yang lebih murah dibanding pesaing dan juga mudah dalam perawatan," Randy menjelaskan.

Meski belum menjelaskan lebih detil tentang transfer of technology dalam paket penjualannya, LM menyatakan akan menyesuaikan pesanan sesuai dengan apa yang diminta Indonesia. Termasuk dengan pendampingan bagi pilot, perawatan, dan lainnya.

Lalu berapa harga satu unit jenis pesawat Viper ini?

"Kami belum bisa menyebutkan. Tapi yang jelas di bawah 100 Juta USD," jawab Randy.

Selain untuk mengisi skadron baru yang rencananya akan dibentuk TNI AU, LM menawarkan Viper kepada Indonesia juga untuk menggantikan pesawat F-5 Tiger yang akan segera pensiun. Meski Kemhan sudah memutuskan memilih Sukhoi jenis SU-35 sebagai pengganti Tiger, LM masih optimis.

"Setahu saya itu mereka (Kemhan) masih mempertimbangkan (memilih Sukhoi)," ucap Director International Business Development (IDB) Asia Pacific Lockheed Martin, Robie Notestine di lokasi yang sama.

"F-5 usianya sudah sangat tua. Akan lebih mahal jika Indonesia terus mempertahankannya. Biaya perawatannya akan lebih mahal. Kami merekomendasikan pakai pesawat baru," sambungnya.


Indonesia sendiri sebenarnya telah memiliki pesawat tempur F-16 jenis A/B yang dibeli sejak tahun 1980-an. Ditambah hibah pesawat F-16 C/D dari Amerika Serikat, saat ini TNI AU telah memiliki belasan F-16 yang tersebar di Skadron 16 Pekanbaru dan Skadron 3 Madiun.

Hibah dari AS untuk jenis pesawat F-16 diberikan gratis, namun Indonesia mengupgadenya menjadi blok 52. Pesawat hibah tersebut disetarakan dengan seperti standar F-16 yang digunakan US Air Force saat ini. Dari 24 pesawat hibah, 9 sudah dikirimkan ke Indonesia namun 1 terbakar beberapa waktu lalu.

Sementara itu, F-16 A/B dibeli 12 unit oleh Indonesia pada tahun 1980-an namun 2 di antaranya jatuh. Untuk 10 pesawat tempur ini kini akan diupgade dan sudah ada tanda tangan kontrak antara Indonesia dan AS. Program mid life upgrade (MLU) tersebut akan segera digarap.

"Sudah tanda tangan kontrak 4 minggu lalu. Target selesai tahun 2017," terang Robie.

Dalam acara ini juga turut dihadirkan simulator kokpit F-16 Viper dan tamu undangan diperkenankan untuk mencobanya. Hadir pula dalam acara ini Dubes AS untuk Indonesia, Robert O Blake.

"Kerjasama ini jika terwujud bisaa memperkuat hubungan Indonesia dan Amerika," tukas Blake.

Dengan biaya operasional yang lebih murah, ini dapat menguntungkan bagi negara yang memiliki budget pas-pasan seperti Indonesia. Terlebih karena pilot-pilot TNI AU juga sudah terbiasa atau mengenal seluk beluk F-16.  (Detik)

KRI Bung Tomo-357 Memulai Misi di Satgas Maritim TNI Konga/Unifil

KRI Bung Tomo-357 yang dikomandani Kolonel Laut (P) Yayan Sofiyan tiba di dermaga 6 Port of Beirut, Lebanon pada hari Minggu (27/09/15) lalu dalam misi Pasukan Perdamaian Unifil (United Nations Interim Forces in Lebanon).

KRI Bung Tomo-357 Memulai Misi di Satgas Maritim TNI Konga-Unifil

Bunyi letupan senjata laras panjang dan pendek terdengar dari arah darat saat memasuki dermaga. Kepada Jurnal Maritim, Kolonel Laut (P) Yayan Sofiyan selaku Dansatgas Maritim TNI Kontingen Garuda XXVIII-H/ UNIFIL (United Nations Interim Forces in Lebanon) TA. 2015 menyampaikan hal tersebut seolah-olah bukan sesuatu yang aneh terjadi di Kota Beirut Lebanon mengingat kondisi konflik yang berkepanjangan di sana.

“Rangkaian kegiatan serah terima Satuan Tugas Maritim TNI Kontingen Garuda dari KRI Sultan Iskandar Muda-367 ke KRI Bung Tomo-357 ini dilaksanakan selama dua hari untuk lebih memahami situasi yang berkembang maupun implementasi tugas sebagai Pasukan Perdamaian dibawah kendali Perserikatan Bangsa Bangsa (UN Peace Keeper),” ungkap Yayan.


Penyerahan tugas dan tanggung jawab (take over authority) secara resmi dilaksanakan pada tanggal 30 September 2015 lalu dalam bentuk Handover Ceremony. Handover Ceremony dimulai pada pukul 10.00 Local Time di Dermaga 3 Beirut Port. Bertindak selaku Inspektur Upacara yaitu MTF Commander Rear Admiral Flavio Macedo Brasil dengan pasukan upacara terdiri dari peleton Perwira, Bintara dan Tamtama kedua kapal serta dihadiri sejumlah tamu undangan.

Hadir dalam upacara tersebut Duta Besar Luar Biasa dan Berkuasa Penuh (LBBP) RI untuk Lebanon, Achmad Chozin Khumaidy, Commander in Chief of Lebanese Armed Forces (LAF)-Navy Rear Admiral (RADM) Nazih Jbaily, Atase Pertahanan untuk Mesir dan Lebanon Kolonel Marinir Ipung Purwadi, Komandan Kontingen Garuda Kolonel Inf Danni Koswara, DMTFC-COS Kolonel Laut (P) Dato Rusman, para Komandan Satuan Tugas Kontingen Garuda dan tamu undangan dari staf UNIFIL dan KBRI Beirut.

Lebih lanjut, Yayan menambahkan kegiatan KRI Bung Tomo 357 keesokan harinya langsung menuju AMO (Area Maritime Operation) untuk On Task perdananya dan langsung ditunjuk sebagai MIO (Maritime Interdiction Operation) Commander yang membawahi seluruh kapal perang yang tergabung dalam Task Force 448 Unifil Lebanon dari Bangladesh, Jerman, Brazil dan Yunani.

“Tidak seperti biasanya, penyerahan bendera PBB dilaksanakan di tengah laut dengan melaksanakan manouver RAS (Replenishment At Sea-red) antara KRI Bung Tomo-357 dan KRI Sultan Iskandar Muda-367,” sambungnya.

Kedua komandan KRI melaksanakan serah terima tugas, wewenang dan tanggung jawab selaku Dansatgas Maritim TNI Kontingen Garuda dari Wing Bridge masing-masing kapal mereka disaksikan BNS Baroso dimana MTF Commander on board.

Sebelum break away, kedua kapal bermanouver di kedua sisi BNS Baroso. Manouver yang ditunjukkan kedua kapal dari Indonesia tersebut membuat kagum dan keyakinan penuh yang tinggi atas profesionalisme yang ditunjukkan Kontingen Garuda Indonesia.

“Tidak hanya itu saja, Commander in Chief of Lebanese Armed Forces (LAF)-Navy Rear Admiral (RADM) Nazih Jbaily menyatakan kekagumannya atas penampilan Satgas Maritim TNI saat parade upacara dan kemampuan mempertahankan kebersihan serta kondisi teknis kapal,” tuturnya.

Tugas perdana yang diemban oleh KRI Bung Tomo-357 dibuktikan dengan kesiapan memimpin sejumlah kapal-kapal Unifil dari sejumlah negara selaku MIO Commander. “Pelaksanaan Short/Full Hilling terhadap sejumlah kontak dilaksanakan dengan baik di AMO untuk meyakinkan tidak adanya penyelundupan senjata, bahan-bahan berbahaya yang masuk/keluar kawasan Lebanon melalui AMO,” paparnya.

Pengamatan aktivitas penerbangan di kawasan tersebut juga dilaksanakan oleh KRI Bung Tomo-357 dengan terdeteksinya aktivitas penerbangan baik komersial maupun non komersial. Penyelenggaraan latihan antar unsur MTF dan pemberian pelatihan terhadap personel LAF Navy dapat terselenggara dengan baik seolah-olah KRI Bung Tomo-357 sudah lama melaksanakan misi tersebut.

“Tidak ada keraguan dan kesalahan yang dilaksanakan dalam on task perdana tersebut. Seluruh kegiatan dilaksanakan dengan standart tinggi dan perfect. Hal tersebut memang disiapkan sejak dini dimulai pelaksanaan PDT (Pre Deployment Training), selama pelayaran dari Indonesia – Lebanon seluruh referensi dan informasi pelaksanaan tugas telah dipelajari sehingga dalam pelaksanaan tugas sudah tidak canggung lagi,” pungkas Yayan.  (JMOL)